Prabowo: Ekonomi Tumbuh, Rakyat Miskin Bertambah

Budi Santoso

Prabowo: Ekonomi Tumbuh, Rakyat Miskin Bertambah

Presiden Prabowo Subianto menyuarakan keprihatinan mendalam atas kesenjangan yang terjadi antara pertumbuhan ekonomi Indonesia dan kesejahteraan masyarakat. Dalam pidato Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027 di DPR RI, Prabowo mengungkapkan keterkejutannya atas data ekonomi yang diterimanya setelah menjabat sebagai presiden. Ia menyoroti fakta bahwa meskipun ekonomi Indonesia telah tumbuh sekitar 5% per tahun selama tujuh tahun terakhir, yang berarti akumulasi pertumbuhan sebesar 35%, angka kemiskinan justru meningkat dan kelas menengah menyusut.

"Saudara-saudara sekalian, pertumbuhan kita dalam 7 tahun terakhir memang baik, 5% tiap tahun. Selama 7 tahun, kali 5% pertumbuhan kita 35%. Harusnya kita tambah kaya 35%. Tapi apa yang terjadi?" ujar Prabowo, menggambarkan perasaannya seperti "dipukul di ulu hati" saat melihat data tersebut. Ia merinci bahwa angka kemiskinan naik dari 4,61% menjadi 4,9%, yang berarti ada peningkatan signifikan jumlah penduduk miskin. Di sisi lain, kelas menengah justru mengalami penurunan.

Prabowo menegaskan bahwa persoalan ini harus dijawab secara ilmiah dan matematis. Ia menduga bahwa sistem perekonomian yang dijalankan selama ini mungkin berada di jalur yang tidak tepat. "Saya bertanya kepada semua partai politik, semua ormas. Saya bertanya kepada semua pakar-pakar dan semua guru besar. Bagaimana bisa pertumbuhan 35% tapi kelas menengah menurun. Kemiskinan meningkat. Jawaban harus ilmiah, jawaban harus matematis. Dan menurut saya, jawabannya adalah bahwa kemungkinan besar, sistem perekonomian yang kita jalankan berada pada trayektori yang tidak tepat," jelasnya.

Baca Juga :  B57+ Asia Pacific: Solusi Mitigasi Risiko Geopolitik dan Ekonomi Global

Perbandingan dengan negara berkembang lain seperti India, Meksiko, dan Filipina turut disampaikan oleh Prabowo. Ia menilai bahwa ada perbedaan sistemik yang mendasar yang perlu segera dibenahi agar Indonesia dapat mencapai kemakmuran. "Mungkin perbedaan kita dengan negara-negara seperti Meksiko, India, Filipina dan lain sebagainya, adalah perbedaan sistemik. Kita harus lihat fakta. Fakta kalau kita teruskan yang seperti ini, kalau kita teruskan sistem seperti ini untuk sekian tahun lagi, saya yakin bahwa tidak mungkin kita jadi bangsa yang makmur," tutup Prabowo, menekankan urgensi perubahan fundamental dalam sistem ekonomi nasional. Pernyataan ini mengindikasikan adanya dorongan kuat dari presiden untuk melakukan evaluasi dan reformasi kebijakan ekonomi agar pertumbuhan yang dicapai benar-benar dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Also Read

Tinggalkan komentar