Harga Kedelai Naik, Produsen Tahu Tempe Terancam

Budi Santoso

Harga Kedelai Naik, Produsen Tahu Tempe Terancam

Kenaikan harga kedelai impor sejak tiga bulan terakhir, dari Rp9 ribu menjadi Rp11 ribu per kilogram, berdampak signifikan bagi produsen tahu dan tempe di Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Para pekerja terlihat sibuk memasukkan kedelai ke dalam mesin penghalus di salah satu pabrik rumahan, menghadapi realitas pahit kenaikan harga bahan baku utama mereka. Untuk tetap bertahan di tengah tekanan ekonomi ini, para produsen terpaksa mengambil langkah drastis dengan mengurangi ukuran tahu dan tempe yang mereka produksi. Tujuannya jelas: untuk menjaga agar harga jual tetap stabil di pasaran dan tidak membebani konsumen, sembari tetap berupaya meraih keuntungan yang layak agar usaha mereka tidak gulung tikar.

Fenomena kenaikan harga kedelai ini bukan hanya masalah lokal di Konawe Selatan, melainkan cerminan dari permasalahan yang lebih luas terkait ketergantungan Indonesia pada impor kedelai dan fluktuasi nilai tukar rupiah. Pengamat pertanian Center of Reform on Economics (CORE), Eliza Mardian, menyoroti bahwa depresiasi rupiah berpotensi mendorong kenaikan harga produk olahan kedelai hingga sekitar dua persen. Hal ini disebabkan oleh tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai, yang mencapai hampir 90 persen dari kebutuhan nasional.

Pelemahan nilai tukar rupiah membuat biaya impor kedelai meningkat, meskipun harga globalnya relatif stabil. Kondisi ini memicu kenaikan biaya bahan baku di dalam negeri dan menimbulkan tekanan pada rantai pasok pangan berbasis kedelai. "Kita ini kan hampir 90 persen kedelainya itu dipenuhi dari impor. Depresiasi rupiah tentu menyebabkan peningkatan harga-harga barang impor termasuk kedelai," jelas Eliza kepada Republika.co.id pada Senin, 18 Mei 2026. Pada Senin pagi itu, nilai tukar rupiah tercatat berada di level Rp 17.658 per dolar AS, melemah sekitar 61 poin atau 0,35 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Baca Juga :  Menteri ESDM Tolak Kenaikan Harga BBM Meski Didesak Senior

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh meningkatnya sentimen risk off global. Pasar merespons negatif hasil pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang dinilai belum memberikan titik terang terhadap konflik geopolitik global.

Menurut Eliza, pelemahan nilai tukar rupiah memunculkan fenomena inflasi impor. Tekanan inflasi muncul akibat kenaikan harga barang impor saat mata uang domestik terdepresiasi. "Nah ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya impor kedelai otomatis meningkat meskipun harga global relatif stabil. Kondisi ini akan memicu kenaikan biaya bahan baku di dalam negeri," ujarnya. Dampak kenaikan harga kedelai tidak berhenti pada bahan baku impor semata. Komoditas ini merupakan bahan utama berbagai produk konsumsi masyarakat, mulai dari tahu, tempe, susu kedelai, hingga pakan ternak yang bahan dasarnya berasal dari bungkil kedelai. Oleh karena itu, gejolak harga kedelai memiliki efek domino yang luas terhadap stabilitas harga pangan dan ekonomi rumah tangga di Indonesia.

Also Read

Tinggalkan komentar