BI All Out Tahan Rupiah, Intervensi Besar-besaran Demi Stabilitas

Budi Santoso

BI All Out Tahan Rupiah, Intervensi Besar-besaran Demi Stabilitas

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengumumkan strategi "all out" yang diterapkan BI untuk membendung pelemahan rupiah di tengah gejolak global. Langkah stabilisasi yang dilakukan kali ini disebut bukan lagi sekadar rutinitas, melainkan upaya habis-habisan untuk menjaga nilai tukar mata uang Garuda. BI telah meningkatkan intervensi valas secara masif, baik di pasar domestik maupun internasional. Tindakan ini menyebabkan penurunan cadangan devisa sekitar US$ 10 miliar. Namun, Perry menekankan bahwa mayoritas intervensi dilakukan melalui instrumen swap dan hedging, sehingga tidak menguras cadangan devisa secara signifikan. "Penurunan cadangan devisa yang sekitar US$ 10 miliar itu baru sebagian saja intervensi yang tunai ini, karena yang sebagian besar lebih dari 2/3 itu adalah untuk secara swap sama hedging, supaya ini tidak semua menguras cadangan devisa," jelasnya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI.

Selain intervensi, BI menahan BI-Rate di kisaran 4,75% sejak Januari 2025. Untuk menarik kembali aliran modal asing, SRBI dinaikkan menjadi 6,41% untuk tenor 12 bulan. Perry mengklaim langkah-langkah ini mulai menunjukkan hasil positif, dengan kembalinya aliran dana asing yang sebelumnya sempat keluar. BI juga aktif membeli Surat Berharga Negara (SBN) dari pasar sekunder untuk menjaga likuiditas rupiah di pasar keuangan. Sepanjang tahun 2025, BI tercatat membeli SBN senilai Rp 332 triliun, dan tambahan Rp 133 triliun secara year-to-date pada 2026. Tindakan ini bertujuan untuk mencegah kekeringan likuiditas, berbeda dengan pengalaman di krisis 1997-1998 di mana intervensi nilai tukar justru menguras likuiditas.

Baca Juga :  Harga Emas Antam Anjlok Rp 25.000, Jual Rugi Siap Kena PPN 1,5%

Dalam operasi moneternya, BI menerapkan strategi ganda pada SBN. SBN jangka pendek dijual untuk menarik aliran masuk modal asing, sementara SBN jangka panjang dibeli untuk mencegah lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah. Lebih lanjut, BI memperketat pembelian dolar AS. Batas pembelian dolar yang sebelumnya dipangkas dari US$ 100 ribu menjadi US$ 50 ribu per bulan mulai April, akan kembali diturunkan menjadi US$ 25 ribu per bulan mulai Juni 2026. "Sehingga pembelian dolar tanpa underlying, silahkan kalau tanpa underlying itu nanti mulai Juni menjadi US$ 25 ribu, supaya betul-betul yang beli dolar, ‘nemen ya’, beneran seperti itu," ujar Perry.

Langkah inovatif lainnya adalah perluasan transaksi Local Currency Transaction (LCT) rupiah-yuan yang terhubung dengan Hong Kong dan China. BI juga mulai menunjuk bank domestik untuk melakukan transaksi offshore non-deliverable forward (NDF). Terakhir, BI meningkatkan pengawasan terhadap bank dan korporasi yang melakukan pembelian dolar dalam jumlah besar. Perry optimis bahwa dolar AS akan menguat ke kisaran Rp 16.200-16.800, atau mendekati Rp 16.500 sesuai asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Also Read

Tinggalkan komentar