
Nilai tukar rupiah pada Senin pagi, 18 Mei 2026, tercatat melemah ke level Rp 17.658 per dolar AS. Pelemahan ini mencapai 61 poin atau 0,35% dari penutupan sebelumnya di Rp 17.597. Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengaitkan pelemahan rupiah ini dengan hasil pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping yang dinilai tidak memberikan solusi signifikan terkait ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Menurut Lukman, rupiah berpotensi terus melemah merespons sentimen risk off global yang terjadi pada Jumat, 15 Mei 2026. Saat itu, dolar AS mengalami penguatan yang cukup besar seiring dengan sell off pada berbagai aset, termasuk obligasi, saham, crypto, dan mata uang. Fenomena ini dipicu oleh kekecewaan investor terhadap hasil pertemuan Xi dan Trump yang dinilai minim pembahasan dan solusi konkret mengenai perang AS-Iran.
Dalam pertemuan tersebut, Tiongkok memang menganjurkan agar Selat Hormuz segera dibuka kembali dengan tetap mempertahankan gencatan senjata. Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi, menyatakan komitmen negaranya untuk terus berupaya mendorong perdamaian, memfasilitasi perundingan, serta memainkan peran aktif dalam meredakan konflik dan memulihkan perdamaian di kawasan Timur Tengah.
Namun, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengungkapkan bahwa upaya mediasi yang dipimpin oleh Pakistan bersama AS belum menemui kegagalan total, tetapi menghadapi "jalan yang sangat sulit". Ia menyoroti adanya ketidakpercayaan Iran terhadap Washington dan pesan-pesan kontradiktif yang disampaikan oleh Amerika Serikat. Araghchi menegaskan bahwa Iran tetap berkomitmen pada jalur diplomasi, meskipun menghadapi gencatan senjata yang dianggap "goyah" pasca perang terbaru yang melibatkan AS dan Israel melawan Iran.
Presiden AS Donald Trump sendiri menyatakan keraguannya mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat antara AS dan Iran. Hal ini dikarenakan negosiasi terkait program nuklir dan konflik yang sedang berlangsung masih berjalan tanpa adanya penyelesaian yang pasti. Laporan media juga menyebutkan bahwa Trump diperkirakan akan segera mengambil keputusan mengenai kelanjutan serangan terhadap Iran, mengingat pembicaraan yang bertujuan mengakhiri konflik dan mengatasi program nuklir Iran belum berhasil mencapai kesepakatan.
Sentimen ketidakpastian ini turut berdampak pada kenaikan harga minyak mentah dunia. Meskipun Tiongkok dan AS telah menyepakati beberapa bentuk kerja sama, respons pasar terhadap kesepakatan tersebut tidak sekuat kekhawatiran yang muncul akibat lonjakan harga minyak dunia.
"Kedua negara dan dunia menginginkan perang berakhir, namun sepertinya sulit bagi Iran melepas ambisi nuklir mereka, sehingga dalam pertemuan Xi dan Trump lebih banyak membahas hubungan kedua negara," jelas Lukman.
Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun ada upaya diplomasi, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait program nuklir Iran dan peran AS, masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi stabilitas pasar keuangan global dan harga komoditas energi. Kekecewaan investor terhadap minimnya solusi konkret dari pertemuan Trump-Xi semakin memperburuk sentimen risk off dan memberikan tekanan lebih lanjut pada mata uang negara berkembang seperti rupiah.











