Emas Diprediksi Rp 2,7-2,8 Juta/Gram, Peluang Investasi Menarik

Budi Santoso

Emas Diprediksi Rp 2,7-2,8 Juta/Gram, Peluang Investasi Menarik

Harga emas diprediksi akan bergerak di kisaran Rp 2,7 juta hingga Rp 2,8 juta per gram pada pekan depan. Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai penurunan harga emas ini menjadi momentum yang tepat bagi investor untuk mengoleksi aset safe haven ini saat harganya relatif murah. Pada Sabtu pagi, harga emas dunia ditutup di level 4.538 dolar AS per troy ons, sementara harga logam mulia di dalam negeri tercatat Rp 2,77 juta per gram.

Secara teknikal, Ibrahim memproyeksikan level support pertama emas dunia jika mengalami pelemahan berada di 4.444 dolar AS per troy ons, diikuti level support kedua di 4.307 dolar AS per troy ons. Untuk logam mulia, level support pertama diprediksi di Rp 2,75 juta per gram dan support kedua di Rp 2,69 juta per gram.

Sementara itu, jika harga emas mengalami kenaikan, level resistance pertama diproyeksikan di 4.639 dolar AS per troy ons, dan resistance kedua di 4.800 dolar AS per troy ons. Untuk logam mulia, level resistance pertama diperkirakan Rp 2,79 juta per gram dan resistance kedua di Rp 2,88 juta per gram. Ibrahim menilai pencapaian level Rp 2,9 juta per gram akan sangat berat.

Indeks dolar AS diprediksi akan melebar pada pekan depan dengan level support di 97,30 dan resistance di 101,10. Harga minyak mentah WTI crude oil juga diperkirakan menguat dengan level support di 91,60 dolar AS per barel dan resistance di 110,60 dolar AS per barel. Hal ini mengindikasikan penguatan indeks dolar dan harga minyak, sementara harga emas diprediksi cenderung fluktuatif.

Baca Juga :  Minyak Dunia Anjlok: AS-Iran Dekati Kesepakatan Damai, Selat Hormuz Dibuka

Pergerakan indeks dolar, harga emas dunia, dan logam mulia dipengaruhi oleh beberapa faktor geopolitik. Pertemuan di China antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping mengindikasikan keinginan untuk mencapai kesepakatan mengenai Selat Hormuz. Trump mengklaim Xi Jinping setuju agar Iran membuka blokade Selat Hormuz, yang jika tercapai dapat menghentikan serangan AS terhadap Iran. Namun, belum ada kepastian mengenai kesepakatan baru antara Iran dan AS. Kondisi ini meningkatkan kemungkinan serangan Israel terhadap Iran.

Ibrahim menjelaskan bahwa jika Iran berperang dengan Israel dan Selat Hormuz dibuka, harga emas dunia akan menguat. Sebaliknya, jika AS terus campur tangan dan Iran tetap memblokade Selat Hormuz, harga emas akan mengalami penurunan. Situasi di Lebanon Selatan, di mana perang masih terjadi akibat serangan Israel terhadap wilayah yang dikuasai Hizbullah, juga menjadi faktor geopolitik yang memengaruhi fluktuasi harga emas.

Perang dagang antara AS dan China juga turut memengaruhi pasar. Hasil pertemuan antara Xi Jinping dan Donald Trump menunjukkan adanya indikasi solusi, termasuk kesepakatan China untuk membeli hasil pertanian, minyak, dan pesawat Boeing dari AS. Hal ini berpotensi meredakan perang dagang dan menenangkan pasar.

Faktor kebijakan Bank Sentral AS juga menjadi perhatian. Dengan inflasi yang cukup tinggi di AS akibat kenaikan harga gasoline dan dampaknya terhadap harga pangan, jajak pendapat menunjukkan 60% kemungkinan Bank Sentral AS akan menaikkan suku bunga tahun ini. Kenaikan suku bunga ini diperkirakan akan terus berlanjut, meskipun ada harapan inflasi dapat kembali di bawah 2% jika perang di Timur Tengah selesai dan Selat Hormuz dibuka.

Baca Juga :  Tarif Royalti Minerba Ditunda, Pemerintah Cari Formulasi Adil

Ibrahim mengkhawatirkan bahwa penguatan indeks dolar dan kenaikan harga minyak mentah dunia dapat mendorong bank sentral global untuk menaikkan suku bunga secara bersamaan. Hal ini berpotensi menyebabkan harga emas tergelincir.

Also Read

Tinggalkan komentar