Risk Premium Tinggi Picu Rupiah Terpuruk ke Titik Terendah

Budi Santoso

Risk Premium Tinggi Picu Rupiah Terpuruk ke Titik Terendah

Ekonom Universitas Hasanuddin, M Syarkawi Rauf, mengungkap kaitan erat antara tingginya risk premium Indonesia dengan depresiasi ekstrem mata uang rupiah yang terjadi sepanjang tahun 2026. Fenomena pelemahan rupiah ini, menurut Syarkawi, utamanya disebabkan oleh tingginya risk premium yang dirasakan investor terhadap perekonomian nasional. Risk premium sendiri merujuk pada imbal hasil tambahan yang diharapkan investor sebagai kompensasi atas risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan investasi yang dianggap aman.

Sejak Januari 2026, Indonesia dilaporkan mengalami peningkatan persepsi risiko yang signifikan, tercermin dari country risk premium yang mencapai 2,46 persen. Angka ini terbilang tinggi jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia yang hanya 1,55 persen dan Thailand sebesar 2,07 persen. Lebih mengkhawatirkan lagi, equity risk premium Indonesia pada periode yang sama melonjak hingga 6,69 persen, jauh melampaui Malaysia (5,78 persen) dan Thailand (6,30 persen).

"Persepsi risiko tinggi membuat pergerakan nilai tukar rupiah melemah dan bahkan mencapai titik terlemah sepanjang sejarah," ujar Syarkawi. Bukti nyata dari pernyataan ini terlihat dari pergerakan rupiah yang telah menembus level Rp 17.500 per dolar AS pada Selasa, 12 Mei 2026, bahkan sempat menyentuh Rp 17.600 per dolar AS pada Jumat, 15 Mei 2026.

Kondisi ini sangat kontras dengan pergerakan mata uang negara-negara ASEAN lainnya. Ringgit Malaysia, misalnya, mengalami tren penguatan terhadap dolar AS sejak Januari 2026, didukung oleh persepsi risiko yang lebih rendah. Sementara itu, baht Thailand, dengan country risk premium yang lebih rendah dari Indonesia, hanya mengalami pelemahan tipis sekitar 1,07 persen dibandingkan bulan lalu dan 2,49 persen dalam 12 bulan terakhir.

Baca Juga :  Prabowo Kurban 1.098 Sapi, Anggaran Rp100 Miliar dari APBN

Dampak tingginya equity risk premium juga terasa pada pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilaporkan mengalami penurunan drastis dari rekor tertinggi sepanjang sejarah (all-time high) sebesar 9.147,5 pada 19 Januari 2026, menjadi hanya 6.853,5 pada 12 Mei 2026. Bahkan, IHSG berpotensi menuju titik terendah dalam lima tahun terakhir yang tercatat sebesar 6.272,0 pada 17 Maret 2025.

Situasi ini berbanding terbalik dengan indeks saham Malaysia (FKLCI) yang memiliki equity risk premium lebih rendah. Indeks FKLCI justru mengalami peningkatan menjadi 1.751 poin pada 12 Mei 2026, naik 0,30 persen dari sesi sebelumnya dan 10,36 persen secara year on year (yoy). Begitu pula dengan indeks saham Thailand, SET 50, yang dengan equity risk premium lebih rendah dari Indonesia, hanya melemah tipis 0,04 persen pada 12 Mei 2026, namun secara yoy masih mencatat kenaikan sebesar 23,32 persen.

Syarkawi menambahkan bahwa anomali depresiasi rupiah terhadap dolar AS dalam beberapa hari terakhir, terutama setelah rilis data fundamental ekonomi nasional yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen (tertinggi sejak 2023), semakin memperkuat argumennya. Depresiasi ekstrem rupiah ini dinilai tidak sejalan dengan indikator fundamental makroekonomi nasional seperti selisih suku bunga, pertumbuhan ekonomi, dan inflasi antara Indonesia dan AS.

"Fenomena depresiasi ekstrem rupiah terhadap dolar AS dan penurunan tajam IHSG sejak Januari 2026 lebih mencerminkan tingginya premi risiko perekonomian nasional," pungkas Syarkawi.

Baca Juga :  Bulog Usulkan Jatah Beras ASN, TNI, Polri Lewat Natura

Also Read

Tinggalkan komentar