
Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terus menekan rupiah, mencapai level tertinggi di kisaran Rp 17.600-an pada Jumat sore, bertengger di angka Rp 17.596. Pelemahan ini semakin menjauh dari asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang menetapkan batas atas di Rp 16.500 per dolar AS. Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad, menilai angka Rp 17.000-an telah menjadi keseimbangan baru yang sulit ditembus rupiah. "Kalau di bawah Rp 17.000 rasanya sudah sulit ya. Ini ada angka keseimbangan baru," ujar Tauhid. Ia memperkirakan penguatan rupiah maksimal berada di kisaran Rp 17.000-17.200, namun membutuhkan dukungan efektif dari tujuh langkah Bank Indonesia (BI).
Tauhid menekankan perlunya pemerintah merevisi asumsi makro APBN 2026 yang dinilai sudah tidak sesuai realitas. Jika revisi APBN tidak memungkinkan, ia meminta pemerintah menyampaikan kerangka fiskal yang transparan hingga akhir tahun untuk menjaga kepercayaan investor. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, sependapat bahwa penguatan signifikan rupiah sulit tercapai saat ini, salah satunya dipicu oleh gejolak geopolitik global yang berdampak pada kenaikan harga minyak dunia akibat gangguan pasokan pasca-konflik AS-Iran.
Di dalam negeri, sentimen negatif seperti pengelolaan APBN yang dinilai terlalu ekstrem hingga mendekati defisit 3% dan polemik pasar modal juga menggerus kepercayaan investor, memicu keluarnya modal asing. Lukman menyarankan pemerintah mengurangi anggaran non-esensial dan BI menaikkan suku bunga.
Ekonom ISEAI, Ronny P Sasmita, menggarisbawahi pentingnya menjaga kredibilitas fiskal dan APBN agar defisit tetap terkendali dan kepercayaan pasar pulih. Ia juga menyarankan penguatan ekspor dan optimalisasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) untuk memperkuat suplai dolar di dalam negeri. Jangka panjang, hilirisasi dan substitusi impor menjadi kunci menekan ketergantungan pada barang impor.
Sementara itu, Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menegaskan perlunya BI aktif menjaga pasar valas dalam jangka pendek untuk mencegah pelemahan tajam yang memicu kepanikan. Untuk memperkuat rupiah kembali ke target APBN, Rendy menekankan pentingnya menjaga kepercayaan pasar melalui komunikasi yang sinkron dan kebijakan yang satu arah dari Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK). Ia juga menyoroti ketergantungan ekonomi Indonesia pada impor bahan baku, energi, dan aliran modal asing yang membuat rupiah rentan terhadap gejolak global.
Rendy menyarankan pemerintah serius memperkuat industri dalam negeri, terutama sektor-sektor yang selama ini menyumbang impor besar seperti farmasi, kimia dasar, dan komponen industri. Kepastian kebijakan yang konsisten juga menjadi faktor krusial bagi investor, yang lebih memilih aturan ketat namun jelas daripada perubahan mendadak yang sulit diprediksi.











