
PT Freeport Indonesia (PTFI) kembali menunjukkan kontribusinya yang signifikan bagi penerimaan negara dengan menyetorkan total Rp75 triliun. Setoran ini mencakup Rp4,8 triliun dari bagian keuntungan bersih perusahaan tahun 2025 yang disalurkan pada April 2026, sebagai tambahan dari dana yang telah disetorkan sepanjang tahun sebelumnya. Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad, menegaskan bahwa nilai setoran tersebut sangat besar, bahkan termasuk yang terbesar di antara BUMN lain, berkat nilai ekspor yang juga masif dari hasil tambang mereka.
Kontribusi Freeport kepada negara mengalir melalui dua jalur utama: penerimaan pajak dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), yang meliputi royalti dan komponen lainnya. Khusus untuk dividen yang disalurkan melalui BUMN, dana tersebut kini sebagian besar bermuara ke Danantara, sementara sebagian lainnya tetap masuk langsung ke kas negara. Dengan demikian, total kontribusi Freeport terdistribusi ke berbagai pos penerimaan, termasuk melalui PT Mineral Industri Indonesia (MIND ID) yang terhubung ke Danantara, serta langsung tercatat sebagai penerimaan pajak dan PNBP.
Tauhid Ahmad menyoroti bahwa angka Rp75 triliun tersebut merupakan pencapaian yang luar biasa, mengingat besarnya nilai ekspor komoditas tambang yang dihasilkan oleh Freeport. Lebih lanjut, potensi penerimaan negara dari sektor tambang pada tahun 2026 diprediksi akan semakin meningkat. Hal ini didorong oleh kenaikan harga komoditas global, seperti nikel, batu bara, bauksit, hingga emas, yang diperkirakan akan mendongkrak kontribusi sektor ini.
Sebagai contoh konkret, ekspor emas dari Freeport, meskipun tarif royaltinya tidak berubah, akan memberikan peningkatan nilai setoran ke negara seiring dengan kenaikan harga pasar emas global. Oleh karena itu, angka penerimaan negara di masa mendatang berpotensi jauh melampaui Rp75 triliun. Tren kenaikan harga komoditas tambang ini juga diperkuat oleh kondisi global saat ini. Di tengah krisis energi dan ketidakpastian pasar minyak, komoditas tambang justru semakin diminati sebagai alternatif. Ketidakstabilan global yang tengah terjadi secara umum berpotensi mendorong harga komoditas tambang menjadi lebih tinggi, karena hasil tambang menjadi primadona ketika terjadi krisis energi dan minyak. Kenaikan harga minyak seringkali mendorong pencarian alternatif seperti batu bara, sementara dalam situasi krisis dolar, harga emas juga cenderung ikut naik.
Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas, sebelumnya merinci bahwa total setoran Rp75 triliun tersebut mencakup dividen kepada MIND ID sebagai pemegang saham Pemerintah Indonesia sebesar Rp16,9 triliun. Selain itu, pemerintah daerah juga menerima sebesar Rp13,48 triliun, yang terdiri dari Rp10,6 triliun yang dibayarkan pada tahun 2025 dan Rp2,88 triliun merupakan pembagian keuntungan bersih perusahaan tahun 2025. PTFI senantiasa mengedepankan transparansi dan akuntabilitas dalam menjalankan kewajibannya kepada negara dan daerah, dengan harapan agar dana tersebut dapat dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat di daerah masing-masing.
Secara rinci, pembagian Rp4,8 triliun bagian keuntungan bersih perusahaan tahun 2025 menunjukkan alokasi kepada pemerintah pusat sebesar Rp1,92 triliun (4%), Provinsi Papua Tengah Rp720,5 miliar (1,5%), dan Kabupaten Mimika Rp1,2 triliun (2,5%). Selain itu, Freeport juga memberikan keuntungan kepada tujuh kabupaten lain di Provinsi Papua Tengah, yaitu Nabire, Paniai, Puncak, Puncak Jaya, Dogiyai, Deiyai, dan Intan Jaya. Masing-masing kabupaten tersebut menerima Rp137,2 miliar, sehingga total yang diberikan kepada tujuh kabupaten ini mencapai Rp960,4 miliar (2%).











