
PT Pertamina Patra Niaga (PPN) tengah menggenjot pengembangan Kilang Gasoline di Cilacap dan Dumai sebagai bagian dari Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II. Inisiatif strategis ini diproyeksikan akan memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional, terutama dalam hal penghematan devisa negara yang diperkirakan mencapai Rp20 triliun per tahun melalui pengurangan impor bahan bakar minyak (BBM).
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun, menjelaskan bahwa pengembangan kilang ini merupakan upaya penguatan kemandirian energi nasional serta peningkatan nilai tambah industri energi domestik. Lebih lanjut, proyek ini dirancang untuk memperkuat stok BBM nasional guna mengantisipasi lonjakan kebutuhan energi yang terus meningkat.
Melalui penerapan "Dual Growth Strategy," Pertamina Patra Niaga tidak hanya memperkuat bisnis yang sudah ada, tetapi juga meningkatkan kompleksitas kilang. Tujuannya adalah agar mampu memproduksi produk-produk bernilai tinggi yang memiliki daya saing di pasar global. Pernyataan ini disampaikan Roberth dalam keterangan persnya di Jakarta, yang dikutip pada Kamis, 14 Mei 2026.
Target produksi Kilang Gasoline Dumai adalah sekitar 0,9 juta kiloliter gasoline per tahun, ditambah 86 ribu ton LPG, dan 124 ribu ton propylene. Sementara itu, Kilang Gasoline Cilacap diproyeksikan menghasilkan sekitar 1,1 juta kiloliter gasoline per tahun, 50 ribu ton LPG, dan 145 ribu ton propylene.
Kedua pengembangan kilang ini mengadopsi konsep "high conversion refinery," yang memungkinkan pengolahan produk energi dengan nilai tambah yang lebih tinggi. Kapasitas produksi yang ditargetkan ini diharapkan memberikan kontribusi substansial dalam menurunkan angka impor BBM, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Secara teknis, Kilang Gasoline Dumai akan memiliki kapasitas operasional sebesar 30 ribu barel per hari (bph). Sementara itu, Kilang Gasoline Cilacap akan mencapai kapasitas 32 ribu bph. Integrasi kedua fasilitas ini dengan infrastruktur yang sudah ada akan menjadi kunci untuk meningkatkan efisiensi operasional secara keseluruhan.
Roberth menambahkan, inisiatif ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya yang berkaitan dengan penyediaan energi bersih dan terjangkau, mendorong pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja yang layak, serta inovasi industri.
Selain itu, Pertamina Patra Niaga juga berkomitmen untuk memproduksi bensin ramah lingkungan dengan kandungan sulfur di bawah 50 ppm. Pengembangan kilang ini juga diarahkan untuk mendukung pencapaian target Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 30 persen.
Dari perspektif ekonomi, proyek pengembangan kilang gasoline ini diprediksi akan menciptakan lapangan kerja bagi hingga 6.000 orang selama periode konstruksi dan operasional. Keberadaan proyek ini diharapkan tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi lokal di sekitar wilayah kilang, tetapi juga memberikan dampak positif yang signifikan bagi perekonomian nasional secara luas.
Pembangunan Kilang Gasoline Cilacap dan Dumai merupakan bagian integral dari seremoni "groundbreaking" 13 Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II. Acara tersebut diselenggarakan pada April 2026 di bawah koordinasi Danantara, dengan total investasi mencapai sekitar Rp116 triliun, dan dihadiri langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.
Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II mencakup berbagai inisiatif yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Di antaranya adalah pembangunan tangki penyimpanan BBM, pengolahan komoditas kelapa dan pala di Maluku Tengah, peningkatan kapasitas baja karbon di Banten, proyek substitusi LPG menjadi Dimethyl Ether (DME) di Tanjung Enim, hingga optimalisasi Aspal Buton. Keseluruhan proyek ini menunjukkan komitmen pemerintah dan BUMN dalam memperkuat sektor energi dan industri nasional.











