MBG Ciptakan Lapangan Kerja dan Jaminan Sosial Pekerja

Budi Santoso

MBG Ciptakan Lapangan Kerja dan Jaminan Sosial Pekerja

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berfokus pada peningkatan gizi anak, tetapi juga berpotensi besar dalam membentuk ekosistem ketenagakerjaan yang lebih luas, terutama di sektor layanan dan distribusi pangan. Dampak turunan dari program ini sangat signifikan terhadap sistem perlindungan sosial bagi para pekerja yang terlibat di dalamnya. Teguh Purwanto, seorang pemerhati jaminan sosial, menyoroti bahwa pelaksanaan MBG melibatkan rantai kerja yang panjang, mulai dari pengelolaan dapur, distribusi makanan, hingga tenaga operasional di lapangan. Oleh karena itu, aspek ketenagakerjaan dalam program ini perlu mendapat perhatian yang setara dengan aspek pemenuhan gizi itu sendiri.

"MBG tidak hanya soal makanan bergizi gratis. Di dalamnya ada ekosistem kerja yang besar, mulai dari tenaga kerja sampai distribusi," tegas Teguh. Ia menekankan pentingnya negara untuk memastikan bahwa pekerja yang terlibat dalam Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mendapatkan perlindungan jaminan sosial yang memadai. Hal ini sangat krusial mengingat skala program yang melibatkan ribuan unit layanan di berbagai daerah di Indonesia.

Teguh, yang memiliki latar belakang pendidikan dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan University of New South Wales Australia, memaparkan bahwa terdapat lebih dari 25.000 SPPG yang diperkirakan melibatkan lebih dari 1,2 juta tenaga kerja. Besarnya jumlah tenaga kerja ini menunjukkan bahwa MBG memiliki dampak langsung dan signifikan terhadap sektor ketenagakerjaan nasional. Perlindungan sosial bagi para pekerja ini tidak hanya penting untuk kesejahteraan mereka, tetapi juga berdampak pada stabilitas layanan di lapangan. Pekerja yang memiliki jaminan sosial cenderung bekerja lebih konsisten dan terhindar dari risiko kerja yang tidak tertangani.

Baca Juga :  Kemenko Pangan: Kerugian Ekonomi Akibat Pangan Tak Aman Capai Rp 30 T

Perlindungan sosial yang dimaksud mencakup berbagai aspek krusial, seperti jaminan kecelakaan kerja, jaminan kesehatan, jaminan hari tua, hingga jaminan kematian. Skema perlindungan ini dinilai sangat relevan untuk mendukung keberlanjutan program MBG dalam jangka panjang. Lebih lanjut, Teguh menilai bahwa program MBG sejalan dengan agenda penguatan sumber daya manusia yang dicanangkan dalam Asta Cita pemerintahan Prabowo-Gibran, khususnya pada aspek peningkatan kualitas tenaga kerja dan kesejahteraan sosial.

Pengalaman panjang Teguh dalam bidang jaminan sosial menunjukkan bahwa investasi pada gizi sejak usia dini memiliki pengaruh besar terhadap kualitas sumber daya manusia di masa depan. Oleh karena itu, ia berpendapat bahwa program MBG memegang posisi strategis dalam upaya mencetak generasi unggul dan memastikan kesejahteraan bagi seluruh elemen masyarakat yang terlibat dalam pelaksanaannya. Dengan demikian, MBG tidak hanya menjadi program penyedia pangan bergizi, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi dan jaminan sosial bagi jutaan pekerja di Indonesia.

Also Read

Tinggalkan komentar