
Morgan Stanley Capital International (MSCI) baru saja mengumumkan hasil rebalancing terbarunya yang berlaku efektif setelah penutupan perdagangan 29 Mei 2026. Keputusan ini berdampak signifikan terhadap pasar saham Indonesia, di mana sebanyak enam saham dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index dan 13 saham lainnya didepak dari MSCI Global Small Cap Index. Saham-saham yang dihapus dari indeks utama ini berpotensi kehilangan daya tariknya di mata investor asing, yang kerap menjadikan indeks MSCI sebagai acuan utama dalam pengambilan keputusan investasi. Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai pengumuman ini akan memicu sentimen negatif bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Selain dampak langsung dari rebalancing MSCI, pasar saham Indonesia juga dibayangi oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menembus level Rp 17.500 per dolar AS. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas moneter dan potensi arus keluar dana asing (outflow). Ditambah lagi, perlambatan pertumbuhan penjualan ritel domestik turut menambah daftar sentimen negatif yang menekan IHSG.
Menanggapi tidak adanya saham Indonesia yang masuk ke dalam MSCI Global Standard Index, Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai hal tersebut wajar mengingat status Indonesia yang masih dalam tahap reformasi pasar modal dan pemenuhan syarat MSCI. "Karena status Indonesia masih dibekukan dan sedang dalam tahapan reformasi pasar modal dan pemenuhan syarat MSCI maka wajar apabila tidak ada yang masuk," ujar Herditya. Ia menambahkan bahwa rebalancing MSCI kali ini berpotensi memicu volatilitas di pasar saham domestik. Aksi penyesuaian portofolio oleh fund manager global juga diperkirakan akan mendorong outflow dana asing. "Kami perkirakan, hal tersebut akan menyebabkan adanya volatilitas harga dan outflow aliran dana ke depannya karena rebalancing dari para fund manager," imbuhnya.
Oleh karena itu, investor disarankan untuk lebih selektif dalam memilih saham di tengah kondisi pasar yang dinamis ini. Penting untuk mencermati emiten yang tidak terdampak langsung oleh pergerakan indeks MSCI maupun fluktuasi nilai tukar rupiah.
Adapun daftar saham yang dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index antara lain: PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).
Sementara itu, perombakan komposisi MSCI Global Small Cap Index untuk saham Indonesia meliputi pengeluaran 13 saham, yaitu PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG). Menariknya, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) yang sebelumnya masuk dalam MSCI Global Standard Index, kini turun kasta ke dalam MSCI Global Small Cap Index, dan merupakan satu-satunya saham yang masuk ke dalam daftar ini.











