
Tekanan terhadap rupiah dan pasar keuangan domestik mulai menjadi sorotan utama industri perbankan Indonesia. Di tengah ketidakpastian global yang semakin intens, bank-bank besar seperti Permata Bank dan Bank Central Asia (BCA) mengambil langkah strategis dengan fokus memperkuat fundamental bisnis mereka. Langkah ini ditempuh sembari tetap menjaga optimisme terhadap prospek pertumbuhan ekonomi nasional. Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank, menjelaskan bahwa gejolak global saat ini tidak hanya dipicu oleh perang dagang yang berkepanjangan, tetapi juga diperparah oleh konflik di Timur Tengah. Eskalasi konflik ini memberikan dampak langsung dan signifikan terhadap harga energi dunia, stabilitas pasar keuangan, serta arus modal global.
Kondisi geopolitik yang memanas ini mendorong para investor global untuk cenderung mengalihkan dana mereka ke aset-aset yang dianggap aman (safe haven). Akibatnya, mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan pelemahan. Josua menekankan bahwa pelemahan rupiah bukanlah fenomena tunggal, melainkan cerminan dari kondisi global yang sedang berada di bawah tekanan. "Tema besarnya sebenarnya bukan rupiah menjadi satu-satunya mata uang yang lemah terhadap dolar AS, tetapi memang kondisi global yang sedang mengalami tekanan," ungkap Josua dalam sebuah paparan ekonomi yang diselenggarakan oleh Permata Institute for Economic Research pada Selasa, 12 Mei 2026.
Hingga awal Mei 2026, tercatat bahwa rupiah telah mengalami pelemahan sekitar 3,9 persen secara year to date (ytd). Selain itu, aliran modal asing keluar dari pasar saham domestik juga masih terus berlanjut. Hal ini disebabkan oleh tingginya tingkat ketidakpastian global dan kekhawatiran para investor terhadap kondisi pasar domestik yang dinilai belum sepenuhnya stabil. Permata Bank secara tegas menilai bahwa tekanan yang dihadapi rupiah ini perlu mendapatkan perhatian serius. Pelemahan mata uang ini berpotensi memengaruhi tingkat inflasi domestik, meningkatkan biaya impor energi, serta membatasi ruang fiskal yang dimiliki oleh pemerintah.
Konflik yang terjadi di Timur Tengah, yang mendorong harga minyak dunia menembus rekor di atas 100 dolar AS per barel, dinilai berpotensi memberikan tekanan pada daya beli masyarakat Indonesia apabila situasi ini berlangsung dalam jangka waktu yang lebih panjang. Meskipun demikian, Josua Pardede tetap optimis terhadap ketahanan ekonomi domestik Indonesia. Ia meyakini bahwa ekonomi nasional masih memiliki daya tahan yang kuat, terutama karena ditopang oleh konsumsi masyarakat yang relatif stabil dan permintaan domestik yang tetap kuat. "Yang diharapkan pelaku usaha sebenarnya bukan rupiah pada level tertentu, melainkan stabilitas nilai tukar," tegas Josua, menggarisbawahi prioritas pelaku bisnis.
Pandangan yang serupa juga disampaikan oleh Bank Central Asia (BCA). Hera F Haryn, Corporate Communication and Social Responsibility Executive Vice President (EVP) BCA, menyatakan bahwa volatilitas pasar saat ini masih sangat dipengaruhi oleh dinamika global dan sentimen para investor. Oleh karena itu, industri jasa keuangan di Indonesia dinilai perlu terus meningkatkan koordinasi yang erat dengan pemerintah dan otoritas regulator. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa stabilitas pasar keuangan dapat tetap terjaga di tengah berbagai tantangan. "Pada prinsipnya, fluktuasi harga saham di pasar modal dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk dinamika global, kondisi geopolitik, dan sentimen pasar," jelas Hera kepada Republika.











