
Konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terus memberikan tekanan signifikan terhadap perekonomian global, dengan negosiasi damai yang belum membuahkan hasil. Ari Rizaldi, Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri, menyoroti dampak langsung ketegangan ini pada lonjakan harga minyak dunia yang menembus di atas US$ 100 per barel. Kenaikan harga energi ini berimplikasi pada peningkatan risiko inflasi global. Ari menyatakan, "Negosiasi perang antara Amerika Serikat dan juga Iran masih belum menghasilkan kesepakatan. Konflik AS dan Iran ini telah mendorong harga minyak yang meningkat hingga di atas US$ 100 per barrel. Nah, kenaikan harga energi ini tentu saja menyebabkan risiko inflasi global yang meningkat."
Lebih lanjut, terganggunya pasokan minyak dunia juga memperparah volatilitas pasar keuangan global. Akibatnya, bank sentral di berbagai negara diperkirakan akan menunda penurunan suku bunga acuan mereka. Konsensus pasar saat ini memprediksi suku bunga AS akan bertahan di level 3,75% hingga tahun 2027, yang berpotensi memperpanjang tekanan pada pasar keuangan global. "Kita lihat, volatilitas di pasar keuangan global juga semakin tinggi akibat sentimen terganggunya pasokan minyak dunia. Situasi ini juga memicu respon Bank Sentral Global untuk menunda penurunan suku bunga. Konsensus pasar per hari ini kita lihat, probabilitas suku bunga Amerika Serikat akan tetap bertahan pada 3,75% hingga tahun 2027," jelas Ari.
Meskipun dihadapkan pada ketidakpastian global, ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan yang patut dicatat. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 tercatat sebesar 5,61%, melampaui angka 5,4% pada triwulan IV 2025. Namun, tekanan eksternal tetap memberikan pengaruh terhadap pasar domestik. Nilai tukar rupiah tercatat melemah sekitar 3,9% sepanjang tahun 2026, dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik.
Dari sisi pasar keuangan, Indonesia mengalami arus keluar modal asing yang cukup signifikan. Hingga 8 Mei 2026, pasar saham mencatat aliran keluar modal asing sebesar Rp 37,6 triliun secara year-to-date, sementara pasar obligasi mencatat arus keluar sekitar Rp 13,3 triliun. Kondisi ini turut menekan pasar modal domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat turun 19,4% ke level 6.969, sementara yield obligasi pemerintah mengalami kenaikan 53 basis poin menjadi 6,6%. Ari merinci, "Pertanggal 8 Mei, secara year-to-date, aliran modal asing dari pasar saham mencapai Rp 37,6 triliun, dan dari pasar obligasi sebesar Rp 13,3 rupiah. Per tanggal 8 Mei 2026, IHSG telah turun 19,4 % ke level 6.969. Sementara Yield Obligasi mencatat kenaikan sebesar 53 basis point ke posisi 6,6% tahun ini."











