
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengumumkan bahwa ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan yang solid di tengah gejolak global, sebuah klaim yang diperkuat oleh penilaian lembaga keuangan internasional terkemuka, J.P. Morgan. Staf Ahli Bidang Pengembangan Produktivitas dan Daya Saing Ekonomi, Evita Manthovani, memaparkan bahwa J.P. Morgan menempatkan Indonesia sebagai negara kedua paling tangguh menghadapi krisis energi global, melampaui kekuatan ekonomi seperti Afrika Selatan, Tiongkok, dan Amerika Serikat. Keunggulan ini, menurut Evita, ditopang oleh besarnya kapasitas produksi energi domestik, terutama dari sektor batu bara dan gas bumi. Ia merinci bahwa produksi batu bara domestik berkontribusi sekitar 48% terhadap konsumsi energi nasional, sementara gas bumi menyumbang 22%, dan energi terbarukan sebesar 7%.
Penilaian positif ini sejalan dengan gambaran kondisi ekonomi nasional yang diklaim dalam keadaan solid pada awal tahun 2026. Evita memaparkan data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61% secara tahunan (year on year/yoy) pada triwulan pertama 2026. Angka ini terbukti lebih unggul dibandingkan mayoritas negara-negara anggota G20. Sebagai perbandingan, Tiongkok mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5%, dan Korea Selatan hanya 3,6%. "Ini membuktikan bahwa fundamental ekonomi kita tetap kokoh, kuat, pertumbuhan ekonomi kita lebih tinggi dari bagian besar negara G20," tegas Evita. Ia menambahkan bahwa pencapaian ini bahkan melampaui proyeksi dari berbagai lembaga penilaian.
Lebih lanjut, Evita menjelaskan bahwa konsumsi rumah tangga tetap menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional, dengan mencatat pertumbuhan sebesar 5,52%. Selain itu, realisasi belanja pemerintah pada triwulan I-2026 juga menunjukkan akselerasi yang signifikan. Belanja pemerintah tercatat mencapai 21,21% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), atau setara dengan Rp 815 triliun. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 31,4% secara tahunan, melampaui rata-rata historis. Di sisi lain, inflasi pada April 2026 berhasil dijaga pada level 2,42%, yang masih berada dalam rentang sasaran yang ditetapkan pemerintah, yaitu 2,5% plus minus 1%.
Indeks keyakinan konsumen juga terpantau tetap berada dalam zona optimistis, dengan skor 122,9. Hal ini menunjukkan optimisme yang berkelanjutan dari masyarakat terhadap kondisi ekonomi. Lebih lanjut, neraca dagang Indonesia pada Maret 2026 mencatat surplus sebesar US$ 3,32 miliar. Pencapaian ini tidak hanya impresif secara individu, tetapi juga menandai perpanjangan tren surplus perdagangan yang telah berlangsung selama 71 bulan berturut-turut. "Ini surplus kita sudah 71 bulan berturut-turut, ini capaian yang luar biasa, patut kita syukuri," ujar Evita. Ia juga melaporkan bahwa pertumbuhan kredit (credit growth) pada Maret tercatat sebesar 9,49%, mengalami peningkatan dari 9,37% pada Februari secara tahunan.











