Kafe Difabis: Peluang Kerja Inklusif untuk Difabel di Jakarta

Budi Santoso

Kafe Difabis: Peluang Kerja Inklusif untuk Difabel di Jakarta

Kafe Difabis di kawasan Terowongan Kendal, Jakarta, menjadi bukti nyata bahwa inklusivitas dapat tercipta dalam dunia usaha. Didirikan oleh koperasi difabel dan didukung oleh Pemprov DKI Jakarta serta Baznas DKI Jakarta, kafe ini membuka pintu kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas. Hingga kini, Kafe Difabis telah berhasil menyerap 21 tenaga kerja difabel yang tersebar di tujuh titik operasionalnya.

Setiap harinya, para barista dan staf difabel ini mampu menyajikan sekitar 130 gelas minuman kopi dengan variasi harga yang terjangkau, mulai dari Rp18.000 hingga Rp25.000. Keberadaan Kafe Difabis tidak hanya sekadar menyediakan minuman, tetapi juga menjadi inspirasi bagi pelaku usaha lain untuk menciptakan model bisnis yang lebih inklusif dan ramah bagi kelompok difabel. Ini menunjukkan bahwa dengan kemauan dan dukungan yang tepat, penyandang disabilitas dapat berkontribusi secara signifikan dalam dunia kerja, sekaligus membangun kemandirian ekonomi.

Lebih jauh, fenomena Kafe Difabis ini selaras dengan pandangan antropolog Indonesia, Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto, mengenai gaya hidup hemat atau frugal living. Menurut Prof. Semiarto, salah satu kunci utama dalam menerapkan gaya hidup hemat adalah dengan mengidentifikasi dan mengurangi pengeluaran yang bersifat tersier atau sekunder. Ia mencontohkan, kebiasaan nongkrong di tempat-tempat mewah, membeli kopi premium secara rutin, hingga makan di restoran mahal, merupakan pos pengeluaran yang paling memungkinkan untuk dikendalikan.

Baca Juga :  Utang Pemerintah Capai Rp 9.920 T, Rasio 40,75% PDB

"Kalau kita mau hidup sederhana, frugal living, ya jelas gaya hidup yang gagasannya adalah konsumsi barang-barang tersier," ujar Prof. Semiarto. Beliau menekankan bahwa mengurangi pengeluaran pada kebutuhan tersier ini tidak berarti harus menghilangkan seluruh kesenangan atau konsumsi tertentu. Intinya adalah bagaimana seseorang mampu mengatur prioritas pengeluarannya secara rasional, disesuaikan dengan kemampuan finansial yang dimiliki. "Kopi sekarang kisaran harganya dari Rp5.000 sampai di atas Rp100.000. Pilihannya itu aja. Hidup disesuaikan," tambahnya.

Selain itu, Prof. Semiarto juga menyoroti kebiasaan konsumsi impulsif atau impulse consumption, yang seringkali dipicu oleh faktor emosional, tren media sosial, hingga fenomena FOMO (fear of missing out). Adanya diskon besar-besaran atau flash sale kerap mendorong pembelian yang tidak esensial. Dorongan untuk mengikuti tren atau sekadar ingin tampil sama dengan orang lain bisa membuat pengeluaran menjadi tidak terarah.

Lebih lanjut, beliau menambahkan bahwa fanatisme terhadap merek tertentu atau kebiasaan mengganti perangkat elektronik seperti gawai secara terlalu cepat juga merupakan pos pengeluaran yang dapat dipertimbangkan untuk dikurangi. Dengan memilah mana yang benar-benar menjadi kebutuhan dan mana yang hanya keinginan sesaat, seseorang dapat lebih bijak dalam mengelola keuangannya, sejalan dengan prinsip gaya hidup hemat yang berkelanjutan.

Also Read

Tinggalkan komentar