
Jumlah pengangguran di Indonesia per Februari 2026 tercatat sebanyak 7,24 juta orang, menunjukkan penurunan signifikan sebesar 35 ribu orang dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (Februari 2025). Angka ini setara dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,68%, yang juga mengalami penurunan sebesar 0,08% poin dari Februari 2025. Data ini bersumber dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2026 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Analisis lebih lanjut berdasarkan daerah tempat tinggal menunjukkan bahwa TPT di perkotaan masih lebih tinggi dibandingkan di perdesaan. Pada Februari 2026, TPT perkotaan mencapai 5,60%, sementara TPT perdesaan sebesar 3,20%. Meskipun demikian, terjadi penurunan pada kedua wilayah tersebut dibandingkan Februari 2025, dengan TPT perkotaan dan perdesaan masing-masing menurun sebesar 0,13% poin.
Perlu dipahami bahwa pengangguran merujuk pada penduduk berusia 15 tahun ke atas yang tidak sedang bekerja namun aktif mencari pekerjaan, mempersiapkan usaha baru, sudah diterima bekerja namun belum mulai, atau merasa putus asa untuk mendapatkan pekerjaan. TPT sendiri merupakan indikator krusial yang mengukur tenaga kerja yang belum terserap oleh pasar kerja, sekaligus menggambarkan potensi tenaga kerja yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Jika ditinjau berdasarkan kelompok usia, penduduk usia muda (15-24 tahun) menunjukkan TPT tertinggi pada Februari 2026, yaitu mencapai 16,36%. Sementara itu, kelompok usia lanjut (60 tahun ke atas) mencatatkan TPT terendah sebesar 1,89%. Pola ini telah konsisten terlihat sejak Februari 2024. Menariknya, jika dibandingkan dengan Februari 2025, hanya kelompok usia produktif (25-59 tahun) yang mengalami penurunan TPT sebesar 0,11% poin. Kelompok usia lainnya justru mengalami kenaikan TPT.
Perbedaan TPT juga terlihat berdasarkan jenjang pendidikan tertinggi yang ditamatkan. Tren ini menunjukkan pola yang serupa sejak Februari 2024 hingga 2026. Pada Februari 2026, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memiliki TPT tertinggi sebesar 7,74%, melampaui jenjang pendidikan lainnya. Di sisi lain, jenjang pendidikan terendah, yaitu Sekolah Dasar (SD) ke bawah, mencatat TPT paling rendah sebesar 2,32%. Data ini menggarisbawahi tantangan penyerapan tenaga kerja bagi lulusan SMK dan pentingnya strategi peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan kejuruan dengan kebutuhan industri.











