Usulan Insentif Motor Listrik Lebih Besar untuk Masyarakat

Budi Santoso

Usulan Insentif Motor Listrik Lebih Besar untuk Masyarakat

Pengamat industri otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Agus Purwadi, menyarankan agar skema insentif kendaraan listrik (KL) pada tahun 2026 memprioritaskan alokasi kuota yang lebih besar untuk sepeda motor listrik dibandingkan mobil listrik. Pendapat ini didasarkan pada pertimbangan kondisi ekonomi masyarakat Indonesia yang mayoritas berasal dari kalangan menengah ke bawah. Agus berargumen bahwa pengguna sepeda motor listrik cenderung berasal dari segmen ekonomi yang lebih rentan dan saat ini masih sangat bergantung pada bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Dengan memberikan porsi insentif yang lebih besar untuk motor listrik, kebijakan ini diharapkan dapat lebih tepat sasaran dan memberikan manfaat yang signifikan bagi masyarakat luas.

"Di tengah kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat, bagus kalau jumlah kuantitas untuk motor-yang selama ini banyak pengguna dari kalangan menengah bawah serta menggunakan BBM subsidi-lebih besar dari mobil yang relatif segmen penggunanya menengah-atas," ujar Agus saat dihubungi dari Jakarta pada Selasa (5/5/2026). Pernyataan Agus ini merupakan tanggapan terhadap rencana pemerintah yang akan menyiapkan insentif kendaraan listrik dengan alokasi masing-masing 100 ribu unit untuk mobil dan motor listrik pada tahun ini.

Agus menekankan pentingnya penyusunan kebijakan insentif yang lebih tersegmentasi agar manfaatnya tidak menyebar terlalu luas dan tetap efektif. Ia berpendapat bahwa porsi insentif yang lebih besar untuk motor listrik lebih masuk akal dibandingkan dengan segmen mobil listrik. "Kalau untuk mobil 100 ribu juga perlu segmented supaya tepat sasaran dan jumlahnya bisa disesuaikan untuk bisa menambah porsi jumlah segmen motor," tambahnya.

Baca Juga :  Antrean Sembako Gratis Bekasi Jelang Idul Adha

Lebih lanjut, Agus mengemukakan bahwa kendaraan listrik yang sudah mulai dirakit di dalam negeri seharusnya mendapatkan fasilitas yang lebih besar. Menurutnya, kebijakan semacam ini akan mampu mendorong aktivitas ekonomi domestik dan memperkuat industri otomotif nasional. "Segmen yang sudah mulai dirakit di Indonesia lebih diberi fasilitas agar menggerakkan ekonomi domestik juga. Jumlah porsi motor dibuat lebih besar dengan realokasi insentif dari porsi mobil yang cenderung untuk kebutuhan segmen menengah-atas," jelasnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengkonfirmasi bahwa pemerintah akan mempersiapkan insentif kendaraan listrik (EV) dengan rincian alokasi 100 ribu unit mobil dan 100 ribu unit motor listrik pada tahun ini. Menkeu memperkirakan besaran subsidi untuk motor listrik akan berada di kisaran Rp5 juta, meskipun angka pastinya akan diumumkan lebih rinci kepada pihak-pihak terkait. Kebijakan ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk menekan konsumsi BBM dan mengurangi beban subsidi energi di tengah kenaikan harga minyak global.

Agus Purwadi juga menyoroti potensi besar transisi ke motor listrik sebagai solusi mobilitas yang lebih terjangkau dan ramah lingkungan bagi mayoritas masyarakat Indonesia. Dengan memberikan insentif yang lebih menarik, diharapkan adopsi motor listrik akan semakin cepat, mengurangi ketergantungan pada BBM bersubsidi, serta menciptakan ekosistem industri kendaraan listrik yang kuat di dalam negeri. Alokasi yang lebih besar untuk motor listrik juga akan membantu menciptakan efek domino positif terhadap perekonomian, mulai dari produksi komponen hingga pengembangan infrastruktur pengisian daya.

Baca Juga :  Rupiah Anjlok, Puan Minta Pemerintah & BI Antisipasi Dampak

Pemerintah diharapkan dapat segera merumuskan kebijakan insentif yang tidak hanya mendorong peralihan ke kendaraan listrik, tetapi juga memastikan bahwa manfaatnya dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama mereka yang paling membutuhkan. Fokus pada motor listrik sebagai prioritas dalam skema insentif adalah langkah strategis yang dapat mempercepat transisi energi di sektor transportasi darat Indonesia.

Also Read

Tinggalkan komentar