OJK Lakukan Stress Test Sektor Keuangan Akibat Konflik Timur Tengah

Budi Santoso

OJK Lakukan Stress Test Sektor Keuangan Akibat Konflik Timur Tengah

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengambil langkah proaktif untuk mendeteksi potensi risiko terhadap pasar keuangan domestik akibat eskalasi perang antara Iran dan AS-Israel di Timur Tengah. Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulan Mei 2026, Selasa (5/5/2026), menyatakan bahwa ketidakpastian penyelesaian konflik tersebut telah mengakibatkan fluktuasi di pasar keuangan. Untuk itu, OJK melakukan pemantauan intensif guna memastikan ketahanan sektor jasa keuangan. Salah satu instrumen yang digunakan adalah stress test dengan berbagai skenario terhadap industri jasa keuangan, serta memperkuat pengawasan terhadap lembaga jasa keuangan.

Friderica, yang akrab disapa Kiki, menekankan pentingnya lembaga jasa keuangan untuk memperkuat penerapan manajemen risiko secara menyeluruh. Hal ini mencakup pelaksanaan stress testing secara berkala dan peningkatan kualitas asesmen terhadap eksposur risiko pasar serta risiko kredit. Mengantisipasi dinamika pasar ke depan, OJK bersama Self Regulatory Organization (SRO) terus mencermati perkembangan pasar dan siap mengambil respons kebijakan yang diperlukan. Beberapa instrumen kebijakan yang dirancang untuk menjaga stabilitas pasar saham dinilai masih relevan dan telah diperpanjang masa berlakunya.

Berdasarkan evaluasi OJK dalam RDK pada 30 April 2026, stabilitas sektor jasa keuangan dinilai tetap terjaga meskipun perekonomian global menghadapi ketidakpastian geopolitik yang berlanjut. Meskipun sempat terdengar kabar mengenai kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan AS-Israel, penutupan Selat Hormuz terus berlanjut akibat blokade, menyebabkan gangguan pada distribusi energi global belum sepenuhnya mereda. Kondisi ini membuat harga minyak tetap volatile dan bertahan pada level tinggi.

Baca Juga :  SBY: Ketidakpastian Global Bebani Utang Negara Berkembang

Dalam publikasi World Economic Outlook edisi April 2026, Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan global menjadi 3,1 persen pada tahun 2026. IMF juga menilai risiko inflasi meningkat, dengan fragmentasi geopolitik, tekanan utang, dan gangguan rantai pasok sebagai faktor risiko utama yang berpotensi melemahkan pertumbuhan ekonomi di masa depan. Tekanan inflasi global yang kian meningkat mendorong ekspektasi pengetatan kebijakan moneter di sejumlah negara maju.

Perekonomian Amerika Serikat (AS) menunjukkan pelemahan, dengan proyeksi pertumbuhan pada kuartal I 2026 yang diperkirakan menurun. Tekanan inflasi di AS diprediksi kembali meningkat, terutama dipicu oleh kenaikan harga barang dan energi. Dalam menghadapi situasi ini, The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya pada rapat Federal Open Market Committee yang dilaksanakan pada akhir April 2026.

Sementara itu, perekonomian China mencatat pertumbuhan kuartal I 2026 sesuai target sebesar 5 persen, yang ditopang oleh kontribusi kuat dari sektor ekspor dan manufaktur. Namun, secara bulanan (month to month/mtm), pertumbuhan ekonomi China mulai menunjukkan perlambatan.

Di dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa ekonomi nasional tumbuh solid sebesar 5,61 persen. Pertumbuhan ini ditopang oleh kontribusi konsumsi rumah tangga dan peningkatan pengeluaran pemerintah.

Dari sisi indikator permintaan, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) masih berada dalam zona optimis, meskipun mengalami sedikit moderasi. Pertumbuhan penjualan ritel tercatat sebesar 2,4 persen secara year on year (yoy), meskipun penjualan kendaraan bermotor mengalami kontraksi secara tahunan. Dari sisi ketahanan eksternal, cadangan devisa pada Maret 2026 tercatat sebesar 148,2 miliar dolar AS. Neraca perdagangan Indonesia juga terus mencatat surplus selama 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, menunjukkan fundamental eksternal yang kuat.

Baca Juga :  IHSG Melemah, BEI Catat Kinerja Beragam Pekan Ini

Also Read

Tinggalkan komentar