IEA: Pangkas Metana Demi Energi dan Lingkungan

Budi Santoso

IEA: Pangkas Metana Demi Energi dan Lingkungan

Badan Energi Internasional (IEA) merilis laporan penting yang menyoroti peran krusial pengurangan emisi metana dari sektor bahan bakar fosil. Lebih dari sekadar upaya pelestarian lingkungan, langkah ini kini menjadi instrumen vital bagi keamanan energi global, terutama di tengah ketegangan geopolitik yang mengganggu rantai pasok energi dunia. Laporan terbaru, "Global Methane Tracker 2026," menggarisbawahi bahwa pemangkasan emisi metana dapat menjadi solusi instan untuk menambal kelangkaan pasokan gas. Kondisi terkini, seperti blokade Selat Hormuz yang mengganggu perdagangan minyak dunia, membuat optimalisasi sumber daya yang terbuang, termasuk kebocoran metana, menjadi langkah yang paling logis.

Industri minyak, gas, dan batu bara menjadi penyumbang terbesar emisi metana, mencakup sekitar 35 persen dari total emisi yang dihasilkan oleh aktivitas manusia. Ironisnya, laporan tersebut mencatat belum ada tanda-tanda penurunan emisi yang signifikan dari operasional bahan bakar fosil secara global. Metana sendiri merupakan kontributor terbesar kedua terhadap perubahan iklim setelah karbon dioksida. Meskipun bertahan lebih singkat di atmosfer, metana memiliki efek pemanasan yang jauh lebih besar, sekitar 80 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida dalam jangka waktu 20 tahun. Hal ini menjadikan efisiensi energi sebagai prioritas utama, apalagi di tengah melonjaknya harga minyak akibat konflik bersenjata di Timur Tengah.

Sekretaris Negara Inggris untuk Keamanan Energi, Ed Miliband, menekankan dalam sebuah pesan video di konferensi Paris bahwa mengurangi emisi metana adalah salah satu langkah terbaik untuk memperlambat pemanasan global, membersihkan udara, meningkatkan kesehatan masyarakat, dan memperkuat keamanan energi. Laporan IEA memperkirakan emisi metana dari operasional minyak, gas, dan batu bara mencapai 124 juta ton per tahun, dengan rincian sektor minyak menyumbang 45 juta ton, batu bara 43 juta ton, dan gas alam 36 juta ton.

Baca Juga :  ASN Naik Kuda, Pemkot Tasikmalaya Tekan BBM dengan WFH

Potensi yang ditawarkan dari upaya global untuk memangkas kebocoran metana sangat besar. IEA memperkirakan hampir 100 miliar meter kubik gas alam dapat tersedia setiap tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 15 miliar meter kubik dapat segera diakses untuk memberikan bantuan langsung pada pasar gas yang sedang tertekan. Selain itu, penghapusan pembakaran gas yang tidak darurat (non-emergency flaring) di seluruh dunia berpotensi membuka tambahan 100 miliar meter kubik gas lainnya. Angka-angka ini sangat signifikan, terutama mengingat krisis yang mengganggu sekitar 20 persen aliran perdagangan gas alam cair (LNG) dunia.

Prancis, sebagai ketua G7, memanfaatkan perannya untuk mengumpulkan pejabat pemerintah, pemimpin industri, dan pakar di Paris. Pertemuan ini bertujuan untuk membangun momentum pemangkasan emisi metana, yang dipandang sebagai batu loncatan penting menuju KTT COP31 PBB yang akan digelar November mendatang. Dengan demikian, upaya pengurangan emisi metana tidak hanya menjadi solusi lingkungan, tetapi juga strategi kunci untuk mengamankan pasokan energi dan stabilitas ekonomi global.

Also Read

Tinggalkan komentar