
Muhammad Reevanza – detikFinance

Selasa, 05 Mei 2026 09:15 WIB

Di tengah keterbatasan lapangan pekerjaan dan tantangan ekonomi, sejumlah warga Depok menemukan cara tak biasa untuk menyambung hidup: mendulang logam di aliran Kali Pesanggrahan. Aktivitas yang penuh risiko ini telah menjadi sumber penghasilan harian yang krusial bagi mereka, bahkan mampu meraup ratusan ribu rupiah dari kerja keras di tengah arus deras dan potensi bahaya.

Setiap hari, tepian hingga dasar Kali Pesanggrahan disisir oleh para pendulang. Dengan menggunakan alat sederhana seperti magnet dan saringan yang terbuat dari panci bekas, mereka dengan tekun mencari besi, logam bekas, serta material bernilai ekonomi lainnya yang terbawa oleh aliran sungai. Tidak hanya dari sungai, sebagian dari mereka juga mengais rezeki dari tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung, mencari serpihan logam yang bisa dijual.

Semangat para pencari nafkah ini tak pernah surut meski dihadapkan pada aliran air yang deras. Mereka rela menghabiskan berjam-jam di dalam sungai, berjuang melawan arus demi mengumpulkan hasil yang bisa mendatangkan pundi-pundi rupiah. Aktivitas ini biasanya dimulai sejak pagi dan berlanjut hingga sore hari. Hasil yang diperoleh bervariasi, berkisar antara 10 hingga 20 kilogram logam per hari, sangat bergantung pada kondisi cuaca dan kekuatan arus sungai.

Pendapatan harian yang mereka raih pun cukup signifikan, berkisar antara Rp200 ribu hingga Rp300 ribu. Angka ini bisa saja meningkat apabila keberuntungan berpihak dan mereka menemukan serpihan emas di antara tumpukan material yang berhasil dikumpulkan. Meskipun aktivitas mendulang ini sarat dengan risiko, mulai dari bahaya tenggelam hingga paparan penyakit, serta ketidakpastian hasil, namun pilihan ini tetap menjadi strategi bertahan hidup yang vital bagi sebagian warga Depok untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. Mereka membuktikan bahwa ketekunan dan keberanian dapat membuka jalan rezeki, bahkan di tempat yang paling tak terduga.











