Trump Bebaskan Kapal, Harga Minyak Dunia Anjlok

Budi Santoso

Trump Bebaskan Kapal, Harga Minyak Dunia Anjlok

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan rencana pembebasan kapal-kapal komersial yang terperangkap di Selat Hormuz akibat konflik dengan Iran. Pernyataan ini sontak memicu penurunan signifikan pada harga minyak dunia. Harga minyak mentah Brent berjangka, acuan global, merosot US$ 64 sen atau 0,59% menjadi US$ 107,53 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS, patokan global lainnya, turun US$ 84 sen atau 0,82% ke level US$ 101,10 per barel. Situasi ini terjadi di tengah kebuntuan negosiasi damai antara AS dan Iran yang telah menyebabkan harga minyak bertahan di atas US$ 100 per barel.

Negosiasi antara kedua negara yang sempat berlanjut akhir pekan lalu dilaporkan menemui jalan buntu. Analis ANZ, seperti dikutip Reuters, menyatakan bahwa perundingan terhenti karena kedua belah pihak bersikeras pada garis merah masing-masing. Donald Trump memprioritaskan kesepakatan nuklir dengan Iran sebagai kunci penyelesaian konflik. Sebaliknya, Iran mengusulkan penundaan isu nuklir hingga perang usai, dengan syarat kedua negara mencabut blokade yang menghambat pelayaran di Teluk.

Atas dasar inilah, Trump mengambil langkah untuk membantu kapal-kapal komersial yang telah tertahan di Selat Hormuz sejak pecahnya perang pada akhir Februari lalu. Melalui unggahan di media sosial pada Minggu (3/5) waktu setempat, Trump menyatakan, "Demi kebaikan Iran, Timur Tengah, dan Amerika Serikat, kami telah memberi tahu negara-negara ini bahwa kami akan memandu kapal-kapal mereka dengan aman keluar dari jalur perairan terlarang ini, sehingga mereka dapat dengan bebas dan mampu melanjutkan bisnis mereka." Keputusan ini diharapkan dapat meredakan ketegangan dan memulihkan kelancaran arus perdagangan di salah satu jalur pelayaran vital dunia.

Baca Juga :  Ratusan Warga Semper Barat Antre Bantuan Pangan, Tekanan Ekonomi Meningkat

Bersamaan dengan pengumuman Trump, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya juga mengumumkan rencana kenaikan target produksi minyak sebesar 188.000 barel per hari pada Juni. Kenaikan target produksi ini berlaku untuk tujuh negara anggota OPEC dan bertujuan untuk meningkatkan stok minyak global. Langkah ini diharapkan dapat memberikan kontribusi lebih lanjut dalam menstabilkan dan menurunkan harga komoditas energi yang sempat melonjak akibat ketegangan geopolitik. Kebijakan ganda ini, baik dari sisi AS maupun OPEC, menunjukkan upaya terkoordinasi untuk mengatasi dampak krisis minyak dan memulihkan stabilitas pasar energi global. Implikasi dari langkah-langkah ini diperkirakan akan terus terasa dalam beberapa waktu ke depan, dengan harapan dapat mengembalikan kepercayaan pasar dan mendorong pemulihan ekonomi.

Also Read

Tinggalkan komentar