Guru Besar Presuniv: Pemasaran Bentuk Nilai Sosial & Tanggung Jawab

Budi Santoso

Guru Besar Presuniv: Pemasaran Bentuk Nilai Sosial & Tanggung Jawab

Guru Besar President University (Presuniv), Jhanghiz Syahrivar, menegaskan bahwa pemasaran kini melampaui fungsi tradisional mendorong penjualan atau keuntungan bisnis. Ia berpendapat bahwa pemasaran secara fundamental membentuk cara masyarakat memahami nilai, pola konsumsi, hingga kewajiban sosial. Pandangan ini disampaikan Jhanghiz saat dikukuhkan sebagai Guru Besar di President University pada 21 April 2026. Sebagai alumni President University angkatan 2005, Jhanghiz mencatatkan sejarah sebagai alumni pertama yang mencapai jenjang akademik tertinggi di kampus tersebut.

Dalam orasinya yang penuh wawasan, Jhanghiz menggarisbawahi bahwa praktik pemasaran memiliki dampak yang jauh lebih luas daripada sekadar transaksi ekonomi. Ia mengemukakan bahwa mekanisme pasar memiliki kekuatan untuk membentuk makna sosial, mendistribusikan relasi kuasa, serta memengaruhi cara individu dan masyarakat memandang identitas dan pengakuan sosial. "Melalui mekanisme pasar, beban moral didistribusikan, makna sosial diproduksi, dan relasi kuasa dilembagakan dalam bentuk yang sering kali tampak wajar," ungkapnya.

Lebih lanjut, Jhanghiz menyerukan kepada komunitas akademik untuk mengembangkan riset pemasaran yang lebih kritis dan mendalam. Ia secara khusus menyoroti perlunya menelisik praktik-praktik seperti greenwashing dan eksploitasi nilai sosial serta religius untuk kepentingan komersial. Menurutnya, ilmu pemasaran harus bertransformasi dari sekadar mengejar efektivitas bisnis menjadi sebuah disiplin yang mengedepankan pendekatan etis. Ia menekankan bahwa pertanyaan dalam ranah pemasaran tidak boleh berhenti pada aspek efektivitas atau keuntungan perusahaan semata. Sebaliknya, pemasaran juga harus mampu menjawab pertanyaan mendasar mengenai apa yang adil, pantas, dan bertanggung jawab.

Baca Juga :  Pajak Periksa Ulang Peserta PPS yang Belum Ungkap Harta

Jhanghiz berpendapat bahwa pendekatan pemasaran yang lebih etis ini menjadi sangat relevan di Indonesia, sebuah negara dengan kekayaan nilai budaya dan religius yang kuat. Ia menegaskan bahwa pemasaran memiliki tanggung jawab publik yang signifikan karena kemampuannya memengaruhi pengambilan keputusan masyarakat dan pembentukan nilai-nilai kolektif. "Jika pemasaran diajarkan tanpa keberanian moral, ia akan menjadi disiplin yang efisien tapi hampa," tandasnya.

Pencapaian Jhanghiz sebagai guru besar termuda di lingkungan LLDIKTI Wilayah IV Jawa Barat dan Banten menandai perjalanan karier yang luar biasa selama 18 tahun sejak kelulusannya dari President University hingga kembali ke almamaternya dalam kapasitas seorang profesor. Prestasi ini tidak hanya menjadi bukti dedikasi dan keunggulan akademis Jhanghiz, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi muda dan alumni President University lainnya. Ia telah menunjukkan bahwa melalui kerja keras, integritas, dan pemikiran kritis, seseorang dapat mencapai puncak karier akademik sambil tetap menjunjung tinggi nilai-nilai etika dan tanggung jawab sosial.

Also Read

Tinggalkan komentar