
PT Unilever Indonesia Tbk merespons tren pelemahan nilai tukar rupiah yang berpotensi memicu kenaikan harga produk. Perusahaan mengakui adanya tekanan inflasi signifikan pada operasional bisnisnya. Direktur Finance PT Unilever Indonesia Tbk, Neeraj Lal, menjelaskan bahwa tekanan inflasi tidak hanya dipicu oleh fluktuasi rupiah, tetapi juga diperparah oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada kenaikan harga komoditas global. Inflasi dalam bisnis Unilever utamanya bersumber dari kenaikan harga bahan baku utama, mulai dari komoditas kelapa sawit hingga bahan kemasan. Neeraj menyatakan, "Saya pikir yang pertama adalah ada tekanan inflasi yang kami lihat, yang berasal dari dua atau tiga hal. Itu berasal dari situasi di Timur Tengah, terutama bahan-bahan berbasis minyak bumi, bahan kimia, kemasan, juga minyak sawit. Dan, tentu saja, tentang nilai tukar, jadi ya ini menciptakan tekanan inflasi dalam bisnis."
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berdampak langsung pada biaya impor bahan baku perusahaan. Namun, Neeraj menekankan bahwa Unilever Indonesia telah menyiapkan bantalan finansial melalui kinerja ekspor serta penerapan strategi lindung nilai (hedging) untuk meminimalkan dampak devaluasi rupiah. "Sekarang, jika menyangkut mata uang, hal itu memang menimbulkan tekanan karena kami memiliki eksposur mata uang pada bahan baku yang kami beli. Kami juga memiliki penjualan ekspor yang membantu kami mengimbangi sebagian dari dampak tersebut. Selain itu, kami menerapkan strategi lindung nilai (hedging) yang membantu kami meredam sebagian dari penurunan nilai rupiah yang kami hadapi," jelasnya.
Manajemen Unilever Indonesia menerapkan respons komprehensif agar perseroan tetap mampu mencatatkan pertumbuhan volume penjualan dan menjaga margin keuntungan yang sehat di tengah ketidakpastian ekonomi global dan domestik. "Kami mengambil respons yang sangat komprehensif untuk mengatasi tekanan inflasi, yang mencakup penetapan harga yang terkalibrasi, yang mencakup disiplin biaya, yang mencakup optimalisasi investasi. Sehingga kami memiliki respons kompetitif yang baik dalam hal bagaimana kami menangani dan mengelola inflasi, sehingga kami tetap fokus pada memberikan pertumbuhan di atas pasar dan peningkatan margin yang moderat," ujar Neeraj.
Presiden Direktur PT Unilever Indonesia Tbk, Benjie Yap, menambahkan bahwa rencana ekspansi perusahaan di pasar domestik akan tetap berjalan konsisten dengan fokus utama mendorong pertumbuhan berbasis volume (volume-led growth). Langkah ini diharapkan dapat menyeimbangkan dampak inflasi dan menjaga stabilitas bisnis perusahaan. Perusahaan terus berupaya menyeimbangkan berbagai faktor ekonomi makro untuk memastikan keberlanjutan operasional dan pertumbuhan di masa depan. Strategi penetapan harga yang cermat, disiplin biaya operasional, dan optimalisasi investasi menjadi kunci dalam menghadapi tantangan inflasi dan fluktuasi mata uang. Selain itu, diversifikasi sumber bahan baku dan penguatan rantai pasok juga menjadi prioritas untuk mengurangi ketergantungan pada impor yang rentan terhadap perubahan nilai tukar. Dengan demikian, Unilever Indonesia menunjukkan komitmennya untuk tetap berkinerja baik meskipun dihadapkan pada kondisi ekonomi yang penuh tantangan.











