IHSG Tergelincir ke 7.115, Saham BBCA hingga BMRI Masuk Zona Merah

Budi Santoso

IHSG Tergelincir ke 7.115, Saham BBCA hingga BMRI Masuk Zona Merah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi setelah sempat mencatatkan performa impresif pada awal pembukaan. Meskipun sempat dibuka di jalur hijau dan menyentuh level tertinggi di posisi 7.230,03, laju indeks justru berbalik arah dan mengalami koreksi tipis sebesar 0,18 persen ke level 7.115,49. Pelemahan ini dipicu oleh aksi jual pada sejumlah saham berkapitalisasi pasar besar (big caps), terutama dari sektor perbankan yang selama ini menjadi penopang utama bursa domestik. Berdasarkan data RTI Business, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi salah satu saham yang mencatatkan penurunan paling signifikan di sektornya. Saham bank swasta terbesar di Indonesia ini terkoreksi sebesar 1,65 persen, sehingga harganya merosot ke level Rp 5.950 per saham dari posisi sebelumnya yang berada di angka Rp 6.050.

Langkah koreksi ini juga diikuti oleh emiten perbankan pelat merah lainnya. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) tercatat melemah 1,33 persen menuju harga Rp 4.440 per lembar saham, setelah sebelumnya sempat bertahan di level Rp 4.510. Tidak ketinggalan, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) juga harus rela tergelincir 0,80 persen ke posisi Rp 3.740 per saham. Padahal, pada menit-menit awal perdagangan, BBNI sempat menunjukkan optimisme dengan menguat hingga menyentuh Rp 3.800 per saham. Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mengalami koreksi yang cenderung lebih terbatas, yakni sebesar 0,33 persen ke harga Rp 3.060 per lembar saham, turun dari harga pembukaan di Rp 3.100.

Baca Juga :  Harga Gula Pasir Naik di 171 Daerah Imbas Meroketnya Biaya Kemasan

Selain kelompok bank besar, jajaran bank dalam himpunan bank milik negara (Himbara) lainnya juga tidak luput dari tekanan pasar. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) tercatat mengalami pelemahan cukup dalam sebesar 1,79 persen, yang membawa harganya ke level Rp 1.375 per saham. Di sisi lain, bank syariah terbesar di tanah air, PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BRIS), turut mengalami penyusutan nilai saham sebesar 1,06 persen ke posisi Rp 1.860 per saham, setelah sebelumnya sempat mencicipi level Rp 1.910 di awal sesi.

Fenomena koreksi massal pada sektor perbankan ini seringkali dianggap oleh para analis sebagai aksi ambil untung atau profit taking oleh para investor, mengingat sektor ini telah mencatatkan kenaikan yang konsisten pada periode sebelumnya. Tekanan pada saham-saham perbankan secara otomatis memberikan beban berat bagi IHSG untuk mempertahankan posisinya di zona hijau, mengingat bobot sektor keuangan yang sangat dominan terhadap pergerakan indeks secara keseluruhan. Investor kini cenderung bersikap waspada sambil mencermati perkembangan sentimen ekonomi makro lebih lanjut.

Also Read

Tinggalkan komentar