
Menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah memberikan dampak ganda bagi sektor industri nasional. Di satu sisi, fenomena ini membuka peluang bagi industri dalam negeri untuk meningkatkan daya saing di pasar global, terutama bagi mereka yang memiliki orientasi ekspor. Namun, di sisi lain, penguatan dolar AS juga menimbulkan tekanan bagi industri yang masih sangat bergantung pada pasokan bahan baku impor.
Menanggapi situasi ini, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melalui juru bicaranya, Febri Hendri Antoni Arief, mengimbau agar industri yang masih menggunakan bahan baku impor untuk segera memanfaatkan skema Local Currency Settlement (LCS) yang difasilitasi oleh Bank Indonesia. Skema ini memungkinkan transaksi perdagangan internasional dilakukan menggunakan mata uang lokal kedua negara yang terlibat, sehingga dapat mengurangi ketergantungan pada dolar AS dan memitigasi dampak fluktuasi nilai tukar. "Memang betul untuk industri yang bahan bakunya impor, kami mengimbau agar memanfaatkan fasilitas Bank Indonesia, Local Settlement Transaction. Jadi, pembelian bahan baku menggunakan mata uang antara dua negara, misalkan dari negara A, bisa pakai mata uang negara A," jelas Febri dalam konferensi pers di Kemenperin, Jakarta Selatan, Rabu (29/4/2026).
Lebih lanjut, Febri menilai bahwa penguatan dolar AS dapat menjadi momentum berharga bagi industri untuk memperkuat posisi mereka di kancah global. Ia mendorong para pelaku industri untuk memanfaatkan situasi ini guna memperluas jangkauan pasar ekspor. "Momen ini bisa dimanfaatkan oleh industri untuk memperkuat atau untuk bisa melakukan penetrasi ekspor. Kalau selama ini industri-industrinya berorientasi pada pasar domestik, inilah momentum untuk masuk ke pasar global, ke rantai pasar global," tuturnya.
Senada dengan Febri, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, menegaskan bahwa pergerakan nilai tukar memiliki pengaruh signifikan terhadap daya saing produk Indonesia di pasar internasional. Industri yang mengandalkan bahan baku domestik dinilai akan memperoleh keuntungan lebih besar karena produk mereka menjadi lebih kompetitif. "Kalau mata uangnya itu makin kena tekanan, ekspor kita akan bagus. Salah satu juga kenapa ekspor kita meningkat itu karena produk-produk kita makin bersaing di luar negeri. Itu untuk industri-industri yang bahan bakunya memang dari dalam negeri. Tadi, kertas dan produk-produk kertas. Produk-produk CPO dan turunannya karena daya saingnya luar biasa," papar Putu.
Meskipun demikian, Putu juga mengakui bahwa industri yang masih bergantung pada bahan baku impor tetap menjadi perhatian. Namun, ia menambahkan bahwa dampak penguatan dolar AS terhadap industri-industri tersebut sejauh ini belum tergolong signifikan. Hal ini dikarenakan sebagian besar kebutuhan bahan baku impor telah dikontrak dalam jangka panjang dan pasokannya sudah tersedia di dalam negeri. "Karena yang impor ini, ini kita pakai neraca komoditas. Dimana neraca komoditas itu sudah kontrak, jadi sudah kontrak jangka panjang dan barangnya sudah banyak masuk ke Indonesia. Sehingga, di sisi industri-industrinya masih bisa dengan bahan baku yang ada. Masih belum terdampak walaupun nanti kita lihat perkembangannya," tutup Putu.
Berdasarkan data dari Bloomberg, pada Rabu (29/4/2026), mata uang Paman Sam tercatat menguat sebesar 83 poin atau 0,48% terhadap rupiah, mencapai level Rp 17.326. Penguatan dolar AS ini menempatkan rupiah pada posisi terendah sepanjang sejarahnya.











