KAI Evaluasi 1.800 Perlintasan Sepadan Pasca Insiden Maut Bekasi

Budi Santoso

KAI Evaluasi 1.800 Perlintasan Sepadan Pasca Insiden Maut Bekasi

PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI tengah melakukan evaluasi komprehensif terhadap operasional kereta api di seluruh Indonesia, dengan fokus utama pada peningkatan aspek keselamatan. Langkah ini diambil menyusul insiden tragis yang merenggut nyawa di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, pada Senin (27/4) malam. Salah satu fokus utama evaluasi adalah penanganan perlintasan sebidang yang dinilai rawan kecelakaan. Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengidentifikasi sebanyak 1.800 perlintasan sebidang yang memerlukan perbaikan. Perbaikan ini akan dilaksanakan secara bertahap, memprioritaskan titik-titik yang paling berisiko tinggi.

"Kita sudah punya data 1.800 (perlintasan sebidang) itu, mana prioritas satu yang sangat membahayakan itu yang akan kita prioritaskan dulu di tahun ini," ujar Bobby dalam konferensi pers di Stasiun Bekasi Timur, Rabu (29/4/2026). Bobby menjelaskan bahwa jenis penanganan di setiap perlintasan akan bervariasi, tergantung pada kondisi geografis dan lingkungan sekitar. Peningkatan kualitas keselamatan dapat berupa pembangunan flyover, pemasangan palang pintu otomatis, atau solusi teknis lainnya.

Namun, KAI menegaskan bahwa jika suatu perlintasan sebidang dinilai tidak dapat diperbaiki lagi atau tidak memenuhi standar keselamatan yang ditetapkan, maka titik tersebut akan ditutup secara permanen. "Jika tidak memenuhi persyaratan, maka kami akan tutup," tegasnya.

Selain upaya pembenahan infrastruktur, KAI juga menyerukan dukungan penuh dari masyarakat. Bobby secara khusus meminta masyarakat yang tinggal di sekitar jalur kereta api untuk tidak lagi membuat perlintasan liar. Berbeda dengan perlintasan resmi yang diawasi KAI, perlintasan liar kerap tidak dilengkapi sistem persinyalan maupun standar keselamatan yang memadai. Keberadaan perlintasan liar tanpa standar kelayakan juga berpotensi mengganggu pandangan masinis dan membahayakan keselamatan pengguna jalan serta penumpang kereta api.

Baca Juga :  Aparatur Negara Wajib LHKAN 2025, Batas Akhir April 2026

"Kami mengharapkan dukungan dari masyarakat juga dalam dua hal. Satu, tidak membuat perlintasan liar lagi. Saya ulangi, tidak membuat perlintasan liar lagi," tegas Bobby. Ia juga meminta agar perlintasan sebidang yang telah ditutup oleh KAI karena tidak memenuhi standar keselamatan tidak dibuka kembali secara liar oleh oknum masyarakat. "Kedua, jika ada perlintasan-perlintasan yang sudah dijaga, sudah dipasang alatnya, jangan dilanggar. Yang ditutup, yang kami sudah tutup karena tidak memenuhi syarat-syarat keselamatan, mohon jangan dibuka lagi. Mohon jangan dibuka lagi," ujar Bobby.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo juga telah menyoroti maraknya perlintasan sebidang yang tidak dijaga dengan baik, yang diduga menjadi salah satu faktor penyebab kecelakaan kereta api maut di Bekasi antara KRL Commuter Line dan KA jarak jauh Argo Bromo Anggrek. Menindaklanjuti hal tersebut, Presiden Jokowi menyatakan akan segera menunjuk pelaksana khusus untuk membenahi 1.800 titik perlintasan sebidang yang teridentifikasi di Pulau Jawa. Diperkirakan, anggaran sebesar Rp 4 triliun akan disiapkan untuk proyek pembenahan skala besar ini demi meningkatkan keselamatan transportasi perkeretaapian nasional. Langkah ini merupakan wujud komitmen pemerintah dalam memprioritaskan keselamatan dan kelancaran operasional kereta api yang merupakan moda transportasi vital bagi masyarakat.

Also Read

Tinggalkan komentar