IHSG Parkir di Level 7.072, Aksi Jual Asing Tembus Rp 44,84 Triliun

Budi Santoso

IHSG Parkir di Level 7.072, Aksi Jual Asing Tembus Rp 44,84 Triliun

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan performa yang kurang menggembirakan pada penutupan perdagangan hari Selasa, 28 April 2026. Berdasarkan data terbaru dari RTI Business, indeks saham kebanggaan Indonesia ini terjerembab ke zona merah dengan pelemahan sebesar 0,48 persen, yang membawanya parkir di level 7.072,39. Padahal, pada awal sesi perdagangan, IHSG sempat memberikan harapan bagi para investor dengan merangkak naik hingga menyentuh level tertingginya di posisi 7.151,50. Namun, tekanan jual yang masif di paruh kedua perdagangan memaksa indeks berbalik arah dan mengakhiri hari di teritori negatif, menghapus keuntungan yang sempat diraih pada sesi pagi.

Aktivitas pasar sepanjang hari ini tergolong sangat dinamis dan menunjukkan volatilitas yang tinggi, dengan volume perdagangan mencapai 31,91 miliar lembar saham. Total nilai transaksi yang dibukukan tercatat cukup besar, yakni mencapai Rp 17,46 triliun, dengan frekuensi perdagangan sebanyak 2.141.934 kali. Kondisi pasar mencerminkan ketidakpastian yang cukup tinggi di kalangan pelaku pasar, di mana tercatat 339 saham mengalami penguatan, namun jumlah tersebut dikalahkan oleh 350 saham yang melemah, sementara 129 saham lainnya bergerak stagnan tanpa perubahan harga yang berarti.

Tekanan terhadap IHSG semakin terasa berat jika melihat performa indeks dalam jangka waktu yang lebih panjang. Dalam kurun waktu sepekan terakhir saja, IHSG telah terkoreksi tajam dengan akumulasi pelemahan sebesar 6,44 persen. Salah satu faktor utama yang menjadi beban berat bagi pergerakan indeks adalah derasnya arus modal keluar dari investor asing yang terus berlanjut. Tercatat pada perdagangan hari Senin kemarin, nilai jual bersih atau net foreign sell mencapai Rp 2,04 triliun hanya dalam satu hari. Angka ini menambah panjang daftar akumulasi jual asing yang sepanjang tahun 2026 ini telah membengkak hingga menyentuh angka fantastis, yakni sebesar Rp 44,84 triliun.

Baca Juga :  BGN Tindak Tegas Pelanggaran SOP Dapur Program Makan Bergizi Gratis

Keluarnya dana asing secara masif ini disinyalir dipicu oleh kombinasi sentimen global dan domestik yang kurang kondusif. Kebijakan moneter ketat di negara-negara maju serta fluktuasi nilai tukar rupiah yang terus membayangi pasar modal domestik membuat investor global cenderung melakukan strategi flight to quality. Investor lebih memilih untuk mengamankan aset mereka ke instrumen yang dianggap lebih aman (safe haven) di tengah ketidakpastian ekonomi global tahun 2026. Sektor-sektor penggerak pasar seperti perbankan dan saham berkapitalisasi besar lainnya kini menjadi sasaran utama aksi jual, yang pada akhirnya menyeret IHSG menjauhi level psikologisnya. Para analis memperingatkan bahwa jika tren arus modal keluar ini tidak segera mereda, IHSG berpotensi menguji level dukungan baru di bawah 7.000 dalam waktu dekat.

Also Read

Tinggalkan komentar