
Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan Selasa pagi, 28 April 2026, terpantau melemah sebesar 12 poin atau sekitar 0,07 persen ke posisi Rp17.223 per dolar AS dibandingkan dengan penutupan sebelumnya di level Rp17.211 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi seiring dengan pergeseran sentimen investor global yang kembali masuk ke mode penghindaran risiko atau risk-off. Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengungkapkan bahwa tekanan terhadap mata uang Garuda merupakan dampak langsung dari meningkatnya ketidakpastian mengenai proses perdamaian di Timur Tengah, khususnya terkait hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas.
Kondisi pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh laporan yang menyebutkan bahwa Amerika Serikat kemungkinan besar tidak akan menerima usulan perdamaian terbaru yang diajukan oleh pihak Teheran. Ketidakpastian ini memicu penguatan indeks dolar AS (DXY) karena investor mencari aset aman atau safe-haven, sementara harga minyak mentah dunia kembali merangkak naik akibat kekhawatiran gangguan pasokan. Berdasarkan data dari Anadolu, Presiden AS Donald Trump dilaporkan telah bertemu dengan tim keamanan nasionalnya pada Senin, 27 April 2026, untuk membedah proposal Iran tersebut. Meski ada upaya diplomatik untuk menghidupkan kembali pembicaraan setelah negosiasi yang berlarut-larut, Trump dikabarkan tidak puas dengan poin-poin yang diajukan, terutama mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz.
Iran bersedia mengakhiri blokade di jalur air vital tersebut dengan syarat AS mencabut blokade ekonomi mereka, namun Teheran tetap bersikeras melanjutkan program pengayaan uranium yang mereka klaim sebagai hak internasional. Penolakan AS terhadap proposal ini disebabkan oleh tuntutan lama Washington agar Iran menghentikan total aktivitas nuklirnya. Seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya menyatakan bahwa menerima usulan Iran dalam bentuk saat ini akan dianggap sebagai kekalahan politik bagi administrasi Trump. Hal inilah yang memicu gejolak di pasar keuangan global dan menekan mata uang di kawasan Asia, termasuk rupiah.
Di sisi lain, pada perdagangan Jumat sore pekan sebelumnya, rupiah sebenarnya sempat menunjukkan resiliensi dengan ditutup menguat pada level Rp17.268 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat terseret hingga menyentuh angka Rp17.300 per dolar AS. Pemerintah menyadari bahwa volatilitas ini dipicu oleh tekanan eksternal yang luar biasa kuat. Oleh karena itu, Pemerintah bersama Bank Indonesia berkomitmen untuk terus memantau dinamika pasar secara real-time guna menjaga stabilitas nilai tukar. Langkah intervensi di pasar valas maupun pasar obligasi akan tetap dilakukan untuk memastikan rupiah tidak bergejolak terlalu tajam di tengah ketidakpastian geopolitik yang masih sangat tinggi di tingkat global.











