
Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal mempertahankan momentum penguatannya dan berakhir di zona merah pada penutupan perdagangan Senin, 27 April 2026. Meskipun sempat menunjukkan taji dengan melesat ke level tertinggi 7.230,03 di awal sesi pagi, IHSG akhirnya tergelincir 0,32% atau menyusut ke level 7.106,52 pada akhir hari. Pelemahan ini dipicu oleh aksi jual masif pada sejumlah saham milik konglomerat ternama serta sektor perbankan kelas kakap yang sebelumnya sempat menghijau lebih dari 1%.
Emiten di bawah bendera Grup Sinar Mas, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), memimpin barisan pelemahan dengan koreksi tajam sebesar 8,66% menjadi Rp 1.845 per saham dari posisi sebelumnya Rp 2.110. Tekanan jual pada DSSA kian terasa setelah mencatatkan aksi jual bersih oleh investor asing (net foreign sell) mencapai Rp 12,78 miliar dalam satu periode perdagangan tersebut. Tak ketinggalan, saham-saham dalam ekosistem milik Prajogo Pangestu juga mengalami tekanan hebat; PT Petrosea Tbk (PTRO) merosot 5,36% ke posisi Rp 5.300, sementara PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) terpangkas 4,17% ke level Rp 5.750 dengan aliran modal asing keluar sebesar Rp 4,16 miliar.
Tren negatif ini turut menjalar ke saham PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) milik konglomerat Aguan yang melemah tipis 0,59% ke harga Rp 8.450. Di sisi lain, sektor perbankan yang biasanya menjadi penopang utama indeks justru kompak berguguran. Saham Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) mencatatkan koreksi serentak; PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) anjlok 2,22% ke Rp 4.400, diikuti PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) yang turun 1,43% ke Rp 1.380, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) yang terkoreksi 1,33% ke Rp 3.720.
Bahkan, bank dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), ikut melemah 1,24% ke level Rp 5.975 per lembar saham. Tekanan juga terlihat pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang turun 0,65% ke Rp 3.050, serta PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BRIS) yang mencatat koreksi 2,13% ke level Rp 1.840.
Secara keseluruhan, volume perdagangan hari ini menyentuh 33,17 miliar saham dengan nilai transaksi menembus Rp 16,57 triliun. Data RTI Business menunjukkan terdapat 264 saham melemah, sementara 408 saham menguat, dan 147 saham stagnan. Pelemahan hari ini memperparah tren koreksi mingguan IHSG yang sudah tergerus 6,42%. Kondisi pasar kian menantang mengingat sepanjang tahun 2026, investor asing telah membukukan net foreign sell yang fantastis sebesar Rp 42,81 triliun, mencerminkan adanya aksi ambil untung dan kekhawatiran terhadap stabilitas pasar modal domestik.











