Airlangga Hartarto Soroti Minimnya IPO di Tengah Ketidakpastian Global

Budi Santoso

Airlangga Hartarto Soroti Minimnya IPO di Tengah Ketidakpastian Global

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menekankan pentingnya peran strategis pasar modal sebagai mesin penggerak pendanaan bagi korporasi nasional untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Dalam acara Program Investasi Terencana dan Berkala (PINTAR) Reksa Dana yang berlangsung di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin, 27 April 2026, ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap rendahnya aktivitas penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) pada awal tahun ini. Hingga memasuki kuartal kedua, tercatat baru satu perusahaan yang resmi melantai di bursa, sebuah angka yang masih sangat jauh dari target ambisius yang ditetapkan BEI sebanyak 50 emiten baru sepanjang tahun 2026.

Menurut Airlangga, lesunya minat perusahaan untuk melakukan IPO sangat dipengaruhi oleh meningkatnya eskalasi ketidakpastian global yang membuat para pelaku usaha cenderung mengambil sikap waspada atau "wait and see". Kondisi makroekonomi dunia, termasuk fluktuasi suku bunga global dan dinamika geopolitik yang tidak menentu, menjadi faktor utama yang menghambat pipeline perusahaan untuk segera merealisasikan pencatatan saham. Meskipun demikian, ia mendorong otoritas bursa dan pemangku kepentingan terkait untuk tetap agresif dalam mengejar target yang telah dicanangkan, mengingat pasar modal adalah pilar penting bagi likuiditas sektor swasta.

Berdasarkan data terkini dari BEI per 17 April 2026, sebenarnya terdapat 16 perusahaan yang sudah masuk dalam antrean IPO. Dari jumlah tersebut, lima perusahaan dikategorikan memiliki aset skala menengah dengan nilai antara Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar. Sementara itu, 11 perusahaan lainnya masuk dalam kategori skala besar dengan aset di atas Rp 250 miliar. Namun, total penghimpunan dana dari aksi korporasi IPO sepanjang tahun ini baru mencapai Rp 300 miliar, yang menunjukkan adanya tantangan besar dalam menarik minat investor besar di tengah volatilitas pasar.

Baca Juga :  Kisah Srikandi Logistik Lion Parcel: Gigih Menembus Batas dan Stigma

Di sisi lain, Airlangga memberikan catatan positif mengenai ketahanan pasar modal domestik yang telah tumbuh empat kali lipat dalam kurun waktu sembilan tahun terakhir. Ia memberikan kilas balik bahwa IHSG yang berada di level 1.000 pada tahun 2004 mampu melesat ke level 4.200 pada tahun 2013 dengan pertumbuhan rata-rata mencapai 20%. Meski sempat melambat ke angka 5-6% akibat pandemi, partisipasi investor domestik kini justru semakin menguat, di mana sekitar 50% pelaku investasi di pasar saham berasal dari dalam negeri. Hal ini menunjukkan bahwa kemandirian pasar modal Indonesia semakin kokoh menghadapi tekanan eksternal.

Pemerintah memprediksi kebutuhan pendanaan nasional akan terus melonjak demi mendukung target pembangunan jangka panjang. Airlangga memaparkan bahwa pada tahun 2026, kebutuhan pembiayaan mencapai Rp 7.400 triliun dan diproyeksikan akan terus meningkat hingga menyentuh angka Rp 9.200 triliun pada tahun 2029. Dengan realisasi investasi sektor riil yang telah mencapai Rp 498,79 triliun pada triwulan I-2026 serta keberhasilan menyerap 706.000 tenaga kerja, penguatan instrumen pasar modal seperti reksa dana dan saham menjadi sangat krusial untuk menutup celah kebutuhan modal dari sektor swasta dan masyarakat secara berkelanjutan.

Also Read

Tinggalkan komentar