Ketegangan Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak ke Level US$ 107

Budi Santoso

Ketegangan Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak ke Level US$ 107

Harga minyak mentah dunia mengalami lonjakan signifikan hingga lebih dari 2 persen menyusul kegagalan rencana negosiasi diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran yang memperburuk stabilitas geopolitik di Timur Tengah. Berdasarkan data pasar pada Senin, 27 April 2026, harga minyak mentah jenis Brent meroket ke level US$ 107,89 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) milik Amerika Serikat juga melonjak hingga menyentuh US$ 96,63 per barel. Eskalasi ini dipicu oleh laporan bahwa Garda Revolusi Iran telah menghadang dua kapal kargo di dekat Selat Hormuz, yang merupakan jalur pipa energi paling vital di dunia. Aksi maritim ini menimbulkan kekhawatiran akut bagi para pelaku pasar terkait gangguan pasokan energi global, mengingat Selat Hormuz adalah titik transit bagi hampir seperlima konsumsi minyak dunia setiap harinya.

Kondisi semakin diperparah dengan batalnya rencana negosiasi damai putaran kedua yang sedianya digelar di Islamabad, Pakistan. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara mendadak membatalkan keberangkatan delegasi utusan khususnya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, yang seharusnya menjadi jembatan dialog. Melalui unggahan di media sosial Truth Social, Trump menegaskan bahwa Washington tidak akan membuang waktu untuk perjalanan yang dianggapnya sia-sia karena adanya ketidaksolidan di jajaran kepemimpinan Iran. Trump secara provokatif menyatakan bahwa Amerika Serikat memegang kendali penuh atas situasi tersebut dan mengklaim memiliki semua kartu as dalam tekanan ekonomi terhadap Teheran. Ia bahkan menantang pihak Iran untuk langsung menghubunginya via telepon jika memang serius ingin melakukan pembicaraan.

Baca Juga :  Strategi Energi Indonesia: Impor Minyak dari Rusia dan Amerika Serikat

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memang terpantau berada di Islamabad akhir pekan lalu, namun pihak Teheran menegaskan bahwa kehadirannya hanya untuk bertemu dengan pejabat tinggi Pakistan guna membahas kerja sama bilateral, bukan untuk berdialog dengan Amerika Serikat. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, secara resmi menyatakan bahwa tidak ada agenda pertemuan sama sekali dengan pihak Washington dalam waktu dekat. Ketidakhadiran jalur diplomasi yang konkret ini membuat pasar bereaksi negatif terhadap ketidakpastian masa depan keamanan energi. Analis energi memperingatkan bahwa jika ketegangan di Selat Hormuz terus berlanjut tanpa solusi diplomatik, harga minyak dunia berpotensi menembus angka US$ 110 per barel dalam waktu singkat. Situasi ini tidak hanya mengancam inflasi global, tetapi juga menekan biaya logistik internasional yang bergantung pada keamanan jalur laut di kawasan Teluk. Para investor kini bersikap defensif sembari memantau pergerakan militer lebih lanjut di wilayah perairan strategis tersebut.

Also Read

Tinggalkan komentar