
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan tanggapan resmi terkait tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang sempat menembus level psikologis baru di angka Rp 17.300 pada medio April 2026. Dalam keterangannya, Purbaya menegaskan bahwa fluktuasi tajam ini bukanlah indikator kemerosotan ekonomi domestik secara sistemik. Ia membandingkan posisi Indonesia dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara, seperti Malaysia dan Thailand, di mana ketahanan ekonomi nasional dinilai masih jauh lebih solid meskipun menghadapi tekanan eksternal yang serupa. Purbaya menekankan bahwa meskipun terjadi depresiasi, gerak nilai tukar Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda dan didukung oleh fondasi makroekonomi yang lebih stabil.
Pelemahan ini dipandang lebih banyak dipicu oleh dinamika global dan adanya gangguan informasi atau "noise" yang berkembang di pasar keuangan. Gangguan ini menciptakan ekspektasi negatif yang tidak berdasar mengenai prospek ekonomi Indonesia dalam jangka pendek. Menkeu menyoroti adanya narasi yang seolah menggambarkan ekonomi nasional sedang menuju keterpurukan dalam beberapa bulan ke depan. Namun, ia membantah keras anggapan tersebut dengan menyatakan bahwa indikator fundamental tetap terjaga, termasuk angka inflasi yang terkendali dan kinerja ekspor yang masih kompetitif. Pemerintah berkomitmen untuk segera membereskan gangguan informasi tersebut agar kepercayaan investor kembali pulih dan spekulasi pasar dapat diredam.
Lebih lanjut, Purbaya menjelaskan bahwa kondisi saat ini juga dipengaruhi oleh kebijakan moneter di Amerika Serikat yang masih sangat ketat, yang memicu aliran modal keluar dari pasar negara berkembang (emerging markets). Untuk mengatasi volatilitas ini, Kementerian Keuangan menyerahkan sepenuhnya langkah stabilisasi kepada Bank Indonesia (BI) selaku otoritas moneter. BI diharapkan terus menjalankan strategi intervensi ganda (triple intervention) baik di pasar spot maupun pasar domestik non-deliverable forward (DNDF). Sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter dianggap sebagai kunci utama dalam menjaga stabilitas nilai tukar tanpa harus mengorbankan momentum pertumbuhan ekonomi yang sedang berjalan.
Purbaya juga secara tegas membantah isu yang menyebutkan bahwa pemerintah sengaja membiarkan rupiah melemah demi meningkatkan daya saing ekspor. Ia menyatakan bahwa nilai tukar saat ini murni bergerak sesuai mekanisme pasar dengan pengaruh sentimen negatif jangka pendek. Fokus pemerintah saat ini adalah memperbaiki kendala-kendala struktural dalam perekonomian untuk memastikan pertumbuhan yang lebih cepat dan inklusif. Dengan cadangan devisa yang masih mencukupi dan neraca perdagangan yang terjaga, Purbaya optimistis bahwa tekanan terhadap rupiah akan mereda seiring dengan kejelasan arah kebijakan global dan penguatan koordinasi kebijakan domestik.











