Harga Gula Pasir Naik di 171 Daerah Imbas Meroketnya Biaya Kemasan

Budi Santoso

Harga Gula Pasir Naik di 171 Daerah Imbas Meroketnya Biaya Kemasan

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai memberikan dampak domino yang nyata terhadap stabilitas harga pangan di Indonesia, khususnya komoditas gula pasir. Kenaikan harga ini bukan dipicu oleh kelangkaan stok gula semata, melainkan akibat lonjakan biaya produksi pada komponen kemasan. Perang yang mengganggu jalur pasokan energi global telah menyebabkan harga nafta, bahan baku utama plastik, meroket tajam. Mengingat mayoritas gula konsumsi di pasar domestik didistribusikan dalam kemasan plastik, biaya tambahan ini pun akhirnya dibebankan kepada konsumen akhir.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya perluasan wilayah yang mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) untuk gula pasir hingga minggu ketiga April 2026. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa jumlah daerah yang terdampak meningkat dari 153 kabupaten/kota pada minggu sebelumnya menjadi 171 kabupaten/kota. Fenomena ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi pada komoditas gula sedang meluas secara nasional, di mana faktor kemasan menjadi variabel krusial yang mengerek harga jual di tingkat ritel.

Analisis dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) menunjukkan bahwa dari 171 daerah tersebut, terdapat 135 kabupaten/kota yang harga gulanya telah melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan pemerintah. Secara persentase, sekitar 38,7% dari total 349 daerah yang dipantau BPS mengalami fluktuasi harga yang cukup signifikan. Rata-rata harga gula konsumsi nasional dalam sebulan terakhir merangkak naik dari Rp 18.412 per kilogram menjadi Rp 18.770 per kilogram pada akhir April, atau mengalami kenaikan sekitar 1,94%.

Baca Juga :  Ketahanan Energi RI Peringkat 2 Dunia dalam Laporan J.P. Morgan 2026

Menanggapi situasi ini, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menegaskan bahwa pemerintah sedang mengupayakan solusi strategis untuk mengatasi kelangkaan dan mahalnya bahan baku plastik. Koordinasi intensif dilakukan bersama Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian untuk mencari sumber pasokan alternatif guna menstabilkan biaya kemasan di tingkat produsen.

Meski tekanan harga akibat faktor eksternal masih membayangi, prospek pasar gula di bulan mendatang diperkirakan akan lebih stabil. Bapanas memproyeksikan adanya lonjakan produksi gula kristal putih dalam negeri yang sangat signifikan, yakni dari 58,3 ribu ton pada bulan April menjadi 276,4 ribu ton pada bulan Mei. Peningkatan volume produksi domestik ini diharapkan mampu menjadi bantalan ekonomi yang efektif untuk meredam laju kenaikan harga dan menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian rantai pasok global.

Also Read

Tinggalkan komentar