HR Ungkap Penyebab Lowongan Kerja Berkurang dan Solusi Bagi Pelamar

Budi Santoso

HR Ungkap Penyebab Lowongan Kerja Berkurang dan Solusi Bagi Pelamar

Sektor ketenagakerjaan di Indonesia saat ini tengah berada dalam fase yang menantang akibat melambatnya penyerapan tenaga kerja baru oleh dunia usaha. Fenomena ini dipicu oleh keputusan strategis banyak perusahaan untuk menahan pembukaan lowongan kerja guna menjaga stabilitas operasional di tengah tekanan ekonomi. Praktisi HR sekaligus Ketua Ikatan SDM Profesional Indonesia (ISPI), Ivan Taufiza, menjelaskan bahwa dalam praktik manajemen sumber daya manusia, terdapat tiga kategori utama rekrutmen: penggantian karyawan yang keluar (replacement), pembukaan lowongan akibat ekspansi bisnis, serta rekrutmen untuk investasi baru. Saat ini, kategori ekspansi bisnis menjadi yang paling terdampak, di mana banyak perusahaan memilih untuk mengoreksi atau bahkan membatalkan rencana penambahan pegawai mereka.

Salah satu faktor utama yang menghambat laju ekspansi adalah lonjakan biaya operasional yang tidak terduga. Sebagai contoh nyata, industri produksi kaca yang sangat bergantung pada energi gas harus menghadapi kenaikan harga kontrak dari Rp 6.000 menjadi Rp 9.000 per kilogram. Kenaikan beban biaya sebesar 50 persen ini memaksa manajemen untuk mengevaluasi ulang rencana rekrutmen mereka; rencana awal untuk menyerap 2.000 tenaga kerja baru terpaksa dipangkas demi menyeimbangkan neraca keuangan perusahaan. Selain faktor biaya, ketidakpastian regulasi juga memegang peranan krusial. Di industri kendaraan listrik, perubahan kebijakan insentif pemerintah berdampak langsung pada minat beli konsumen, yang pada gilirannya membuat produsen menunda rekrutmen ribuan pekerja yang sebelumnya telah direncanakan secara matang.

Baca Juga :  Kartini Modern: Perempuan Tangguh Penjaga Ketahanan Energi Nasional

Kondisi ekonomi global yang fluktuatif serta ketidakpastian iklim usaha domestik membuat investor cenderung bersikap konservatif. Oleh karena itu, Ivan menekankan pentingnya peran pemerintah dalam memberikan kepastian hukum dan iklim usaha yang kondusif. Jika regulasi sering berubah secara mendadak, perusahaan akan terus ragu untuk melakukan ekspansi jangka panjang yang sebenarnya sangat dibutuhkan untuk menyerap angkatan kerja baru. Tanpa adanya jaminan stabilitas, tiga gelombang rekrutmen yang menjadi motor penggerak pasar kerja akan terus mengalami kontraksi.

Bagi para pencari kerja, terutama lulusan baru, situasi ini menuntut fleksibilitas dan ketahanan mental yang tinggi. Ivan menyarankan agar pelamar tidak hanya terpaku pada pekerjaan formal yang sesuai dengan bidang studi mereka, tetapi juga berani mengambil kesempatan di sektor informal atau pekerjaan sampingan. Dalam perspektif HRD, pengalaman bekerja di sektor informal saat masa sulit merupakan indikator kuat dari Survival Quotient (SQ) atau kemampuan bertahan hidup seseorang. Kandidat yang memiliki SQ tinggi dinilai memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa dan mentalitas petarung, yang menjadi nilai tambah signifikan saat mereka akhirnya melamar di perusahaan formal. Kemampuan untuk tetap produktif dalam kondisi terbatas menunjukkan karakter yang sangat dicari oleh perusahaan untuk menghadapi tantangan bisnis di masa depan.

Also Read

Tinggalkan komentar