Investasi Manufaktur Kuartal I 2026 Capai Rp 418,62 T, Serap 219 Ribu Pekerja

Budi Santoso

Investasi Manufaktur Kuartal I 2026 Capai Rp 418,62 T, Serap 219 Ribu Pekerja

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat pencapaian gemilang pada sektor manufaktur nasional di kuartal pertama tahun 2026. Sebanyak 633 perusahaan industri baru mulai membangun fasilitas produksi dengan total nilai investasi fantastis mencapai Rp 418,62 triliun. Ekspansi besar-besaran ini diproyeksikan mampu menyerap 219.684 tenaga kerja baru, yang menjadi sinyal kuat kebangkitan industri pengolahan sebagai tulang punggung ekonomi Indonesia. Tren positif ini mencerminkan kepercayaan investor yang tetap tinggi terhadap stabilitas makroekonomi dan iklim usaha di tanah air.

Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, menegaskan bahwa sektor manufaktur terus menunjukkan resiliensi luar biasa di tengah tekanan geopolitik dan fluktuasi rantai pasok global. Pada tahun 2025, industri pengolahan nonmigas tumbuh sebesar 5,30 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,11 persen. Fenomena ini merupakan catatan sejarah penting karena untuk pertama kalinya dalam 14 tahun terakhir, pertumbuhan industri manufaktur berhasil melampaui laju PDB nasional secara keseluruhan, menandakan fase reindustrialisasi sedang berjalan.

Kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB pun terus merangkak naik secara konsisten. Dari posisi 17,92 persen pada pertengahan 2022, angka ini melonjak hingga menyentuh 19,20 persen pada kuartal keempat 2025. Peningkatan signifikan sebesar 1,28 poin persentase ini membuktikan bahwa struktur ekonomi Indonesia semakin bergeser ke arah industrialisasi yang bernilai tambah tinggi. Dari sisi ketenagakerjaan, sektor ini mencatatkan rekor penyerapan tertinggi pada Agustus 2025 dengan total 20,26 juta pekerja, menunjukkan pemulihan total pasca-pandemi dan ekspansi kapasitas produksi yang masif.

Baca Juga :  Perkuat Pasokan, Indonesia Impor 150 Juta Barel Minyak Asal Rusia

Analisis sektoral menunjukkan bahwa Industri Logam Dasar menjadi primadona investasi dengan nilai mencapai Rp 218,04 triliun. Hal ini mencerminkan keberhasilan program hilirisasi mineral strategis yang terus diperkuat untuk memperkokoh rantai pasok hulu. Di sisi lain, subsektor Industri Bahan Kimia menyumbang Rp 81,22 triliun, sementara sektor padat karya seperti Industri Kulit, Barang dari Kulit, dan Alas Kaki tetap menjadi motor penyerap tenaga kerja terbesar dengan rencana rekrutmen 37.350 orang.

Keberhasilan ini tidak lepas dari kebijakan strategis yang pro-industri, termasuk reformasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), penerapan kebijakan non-tariff barrier untuk melindungi produk lokal dari serbuan impor, serta akselerasi transformasi Industri 4.0. Arahan Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat sinergi antar kementerian dan lembaga menjadi kunci terciptanya ekosistem investasi yang kondusif. Kemenperin optimistis bahwa melalui penguatan pasar ekspor nontradisional dan program substitusi impor, sektor manufaktur akan terus mendominasi peta pertumbuhan ekonomi nasional, sekaligus memperkuat daya saing Indonesia di kancah internasional secara berkelanjutan.

Also Read

Tinggalkan komentar