Ketahanan Energi RI Peringkat 2 Dunia dalam Laporan J.P. Morgan 2026

Budi Santoso

Ketahanan Energi RI Peringkat 2 Dunia dalam Laporan J.P. Morgan 2026

Indonesia berhasil mengukuhkan posisinya di kancah global dengan menempati peringkat kedua sebagai negara paling tahan terhadap guncangan energi dunia menurut laporan terbaru J.P. Morgan Asset Management. Dalam studi mendalam bertajuk "Pandora’s Bog: The Global Energy Shock of 2026", Indonesia mencatatkan skor insulation factor sebesar 77 persen, hanya berselisih tipis dari Afrika Selatan yang berada di posisi pertama dengan 79 persen. Pencapaian ini menempatkan Indonesia di atas kekuatan ekonomi besar lainnya seperti Tiongkok yang meraih 76 persen dan Amerika Serikat dengan 70 persen. Indikator ini dihitung berdasarkan kemampuan negara dalam mengagregasi empat komponen utama sumber energi domestik, yakni produksi gas, batu bara, pembangkit nuklir, serta energi terbarukan terhadap total konsumsi energi nasional.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa hasil ini merupakan validasi atas kebijakan strategis pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya domestik dan percepatan transisi energi. Kekuatan utama Indonesia terletak pada dominasi produksi batu bara domestik yang memenuhi sekitar 48 persen konsumsi energi akhir nasional, disusul oleh kontribusi gas bumi sebesar 22 persen, serta energi terbarukan yang menyumbang 7 persen. J.P. Morgan secara spesifik mengategorikan Indonesia ke dalam kelompok negara yang memperoleh manfaat substansial dari kekayaan sumber daya alamnya sendiri, sehingga mampu meredam efek inflasi energi yang diprediksi akan mengguncang pasar global pada tahun 2026.

Baca Juga :  Serbu Transmart Full Day Sale 26 April 2026, Diskon Hingga 50% + 20%

Keunggulan strategis Indonesia kian diperkuat dengan rendahnya eksposur terhadap jalur distribusi energi internasional yang rawan konflik geopolitik. Impor minyak dan gas melalui Selat Hormuz, yang sering menjadi titik panas dunia, hanya menyumbang sekitar 1 persen dari total konsumsi energi primer nasional. Angka ini jauh lebih aman jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga dan mitra di Asia Timur, seperti Korea Selatan yang memiliki tingkat ketergantungan hingga 33 persen, serta Taiwan dan Thailand di level 27 persen. Kondisi ini memberikan ruang fiskal yang lebih terkendali bagi APBN 2026, sekaligus melindungi daya beli masyarakat dari lonjakan harga komoditas global.

Pemerintah berkomitmen untuk tidak lengah dan terus memperkuat ketahanan nasional melalui berbagai arah kebijakan baru. Fokus utama ke depan mencakup optimalisasi produksi migas domestik guna menekan defisit neraca perdagangan, serta akselerasi transisi energi melalui pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) sesuai dengan RUPTL. Selain itu, perluasan adopsi Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) menjadi strategi struktural untuk menurunkan ketergantungan pada impor minyak mentah. Melalui integrasi kebijakan energi dan fiskal, pemerintah optimis momentum pertumbuhan ekonomi tetap terjaga meski di tengah ketidakpastian lingkungan global yang dinamis.

Also Read

Tinggalkan komentar