
Industri makanan dan minuman (mamin) Indonesia menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 6,38% di tahun 2025, namun angka ini masih di bawah pertumbuhan pra-pandemi yang mencapai 7-9%. Ketua Umum Asosiasi Industri Minuman Ringan (ASRIM), Triyono Prijosoesilo, menyampaikan bahwa capaian ini masih belum optimal.

Pertumbuhan positif ini dibayangi oleh sejumlah tantangan signifikan. Pelemahan nilai tukar rupiah menjadi salah satu isu utama yang berdampak langsung pada biaya produksi. Ketergantungan pada impor bahan baku dan kemasan membuat industri rentan terhadap fluktuasi kurs. "Pelemahan rupiah itu yang paling besar dampaknya. Kita masih bergantung pada impor, baik bahan baku maupun kemasan," ujar Triyono dalam diskusi di Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian, Merrijantij Punguan Pintaria, menekankan pentingnya penguatan struktur industri, pengembangan hilirisasi, serta peningkatan daya saing sektor mamin. Sektor ini memiliki kontribusi yang besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Namun, tantangan struktural, termasuk kenaikan biaya produksi akibat ketergantungan impor, perlu segera diatasi.

Kondisi ini tercermin dari data inflasi. Per April 2026, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi sebesar 3,06% secara tahunan (year-on-year). Angka ini lebih tinggi dibandingkan inflasi umum nasional yang berada di angka 2,42%. Kenaikan inflasi pada sektor mamin ini secara langsung dirasakan oleh konsumen, namun juga menekan margin keuntungan produsen.
Peneliti Senior dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Muhammad Ishak Razak, menambahkan bahwa tantangan operasional pelaku usaha kian diperparah oleh kenaikan biaya produksi. Hal ini memaksa industri untuk mencari strategi baru demi menjaga keberlanjutan dan daya saing. "Inflasi kelompok makanan dan minuman ini memang berada di atas inflasi umum. Ini menunjukkan ada tekanan yang lebih kuat di sektor ini," jelasnya.

Dalam diskusi tersebut, Triyono, Merrijantij, dan Muhammad Ishak Razak turut membahas berbagai strategi penguatan daya saing industri minuman nasional. Fokus utama meliputi pengembangan bahan baku domestik untuk mengurangi ketergantungan impor, peningkatan investasi di sektor manufaktur, serta memastikan keberlanjutan sektor ini dalam jangka panjang. Upaya ini diharapkan dapat memitigasi dampak negatif dari pelemahan rupiah dan kenaikan biaya produksi, serta mengembalikan pertumbuhan industri mamin ke level pra-pandemi.
Pentingnya diversifikasi sumber bahan baku dan penguatan rantai pasok lokal menjadi kunci utama. Selain itu, inovasi dalam proses produksi dan efisiensi operasional juga perlu digalakkan. Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian terus berupaya mendorong hilirisasi industri dan penciptaan nilai tambah agar produk mamin Indonesia semakin kompetitif baik di pasar domestik maupun internasional. Dengan langkah-langkah strategis ini, diharapkan industri mamin dapat kembali tumbuh optimal dan berkontribusi lebih besar bagi perekonomian nasional.











