Rupiah Melemah, Produsen Tahu di Depok Tertekan

Budi Santoso

Rupiah Melemah, Produsen Tahu di Depok Tertekan

Nilai tukar rupiah yang terus melemah memberikan dampak signifikan pada industri pangan rakyat, khususnya para pelaku usaha tahu. Ketergantungan tinggi pada pasokan kedelai impor membuat industri ini sangat rentan terhadap fluktuasi mata uang. Sutisna, pemilik Pabrik Tahu NN Bandung di Cilodong, Depok, Jawa Barat, merasakan langsung tekanan tersebut. Kenaikan harga kedelai, ditambah dengan mahalnya bahan pendukung seperti plastik kemasan, garam, dan bumbu-bumbu, telah menggerus margin keuntungan para produsen tahu.

"Dengan kenaikan harga kacang kedelai dan beberapa bahan baku hampir semuanya naik, dari plastik, terus garam, kemudian kunyit, ya otomatis berdampak terhadap keuntungan yang semakin menipis," ujar Sutisna. Ia menambahkan bahwa kenaikan harga jual produk menjadi dilema tersendiri, mengingat daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih pasca pandemi. Kenaikan harga yang terlalu tinggi dikhawatirkan akan membuat produk tahu menjadi kurang terjangkau bagi konsumen.

Fenomena ini menggambarkan bagaimana pelemahan rupiah mulai dirasakan langsung oleh sektor riil. Berbeda dengan komoditas lokal yang mungkin memiliki sumber pasokan domestik yang lebih kuat, industri tahu Indonesia masih sangat bergantung pada kedelai impor. Hal ini membuat setiap kenaikan kurs dolar AS hampir selalu berujung pada peningkatan biaya produksi.

Data Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa kebutuhan kedelai nasional mencapai sekitar 3 juta ton per tahun. Namun, produksi dalam negeri masih jauh dari mencukupi, sehingga lebih dari 80 persen kebutuhan dipenuhi melalui impor. Dalam beberapa tahun terakhir, volume impor kedelai Indonesia berkisar antara 2,4 juta hingga 2,7 juta ton per tahun, dengan sebagian besar berasal dari Amerika Serikat dan Brasil.

Baca Juga :  BRI Raih Laba Rp15,5 Triliun di Kuartal I-2026, Tumbuh 13,7%

Ketergantungan yang tinggi terhadap impor ini menjadikan industri tahu dan tempe sebagai salah satu sektor yang paling sensitif terhadap pergerakan nilai tukar rupiah. Ketika rupiah melemah, harga kedelai yang dibeli oleh importir secara otomatis meningkat, meskipun harga komoditas tersebut di pasar internasional mungkin relatif stabil. Kondisi ini memaksa para pengusaha tahu untuk mencari berbagai cara agar tetap bertahan, mulai dari efisiensi produksi, mencari pemasok alternatif, hingga mempertimbangkan diversifikasi produk. Namun, tanpa kebijakan yang mendukung penguatan rupiah dan ketersediaan kedelai lokal, industri tahu akan terus berada dalam tekanan.

Also Read

Tinggalkan komentar