
Kapasitas terpasang pembangkit listrik nasional per April 2026 tercatat sebesar 108 gigawatt (GW), namun mayoritas masih mengandalkan energi fosil, terutama batu bara. Plt. Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, Tri Winarno, merinci bahwa 91,58 GW atau 85% dari total kapasitas berasal dari pembangkit energi fosil. Pembangkit listrik berbahan batu bara menyumbang porsi terbesar dengan 60,53 GW dari kapasitas terpasang. Sebaliknya, Pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT) baru mencapai 16,26 GW atau 15% dari total kapasitas nasional.
Lebih lanjut, Tri menjelaskan bahwa dari sisi jenis energi yang digunakan, dominasi energi fosil sangat jelas terlihat dengan 91,58 GW (85% total kapasitas). Rinciannya, batu bara menyumbang 56%, gas 23%, dan bahan bakar minyak (BBM) 6%. Jika dilihat dari realisasi produksi listrik hingga April 2026 yang mencapai 165,51 terawatt per jam (TWh), batu bara masih menjadi tulang punggung dengan kontribusi 64,87%, melampaui target 62%. Gas menyumbang 13% dan BBM hanya 3,38% dari produksi listrik.
Di sisi lain, produksi listrik dari EBT menunjukkan perkembangan positif dengan realisasi 17,89% dari total produksi, melampaui target yang ditetapkan sebesar 16,46%.
Melihat data tahun sebelumnya, pada tahun 2025, realisasi produksi listrik nasional mencapai sekitar 494 TWh. Porsi batu bara tercatat sebesar 66,7%, lebih tinggi dari target Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) sebesar 62%. Kontribusi gas sedikit di bawah target RUKN, yaitu 14,31% dibandingkan target awal lebih dari 20,5%. Namun, EBT menunjukkan kinerja yang sangat menggembirakan dengan realisasi 16,31%, melampaui target 15,9%. Sementara itu, porsi BBM pada tahun 2025 hanya sebesar 2,67%. Data ini mengindikasikan tantangan besar dalam transisi energi menuju sumber yang lebih bersih, meskipun EBT menunjukkan potensi pertumbuhan yang signifikan dan berhasil melampaui targetnya.











