
Bursa Efek Indonesia (BEI) angkat bicara menanggapi isu penurunan status pasar modal Indonesia menjadi Frontier Market oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI). Isu ini beredar luas di berbagai platform media sosial melalui tangkapan layar yang mengatasnamakan MSCI. Penjabat sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menegaskan bahwa informasi tersebut tidak akurat dan menyesatkan. "Kemarin kita ikuti bersama ada informasi yang tidak akurat beredar di pasar terkait dengan tangkapan layar, seolah-olah ada pengumuman MSCI bahwa Indonesia ditempatkan di Frontier Market, yang ternyata itu adalah informasi yang salah," ujar Jeffrey di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (6/4/2026).
Jeffrey menyatakan keyakinannya bahwa MSCI tidak akan menurunkan klasifikasi pasar modal Indonesia. Ia juga mengimbau seluruh investor untuk selalu memverifikasi kebenaran informasi yang diperoleh dari media sosial sebelum membuat keputusan investasi. "Kami memiliki ekspektasi yang sangat tinggi bahwa Indonesia akan tetap di Emerging Market. Sekali lagi saya sampaikan, dari hal-hal konkret yang sudah kita lakukan, kami memiliki ekspektasi yang sangat tinggi Indonesia akan tetap di Emerging Market," tegasnya.
Lebih lanjut, Jeffrey memaparkan bahwa fundamental pasar modal Indonesia saat ini dalam kondisi yang sangat kuat. Ia merujuk pada data pertumbuhan laba bersih perusahaan tercatat di BEI. Sepanjang tahun 2025, perusahaan tercatat berhasil membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 21%. Capaian ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"Kalau kita lihat di tahun 2020 hanya ada 63% perusahaan tercatat membukukan laba bersih. 2021-2025 itu persentasenya antara 73% sampai 76% perusahaan yang membukukan keuntungan," jelas Jeffrey.
Performa positif ini terus berlanjut di awal tahun 2026. Pada kuartal I-2026, perusahaan-perusahaan yang masuk dalam papan utama LQ45 membukukan pertumbuhan laba bersih yang impresif, mencapai hampir 30%. Angka ini menunjukkan vitalitas dan kesehatan finansial emiten-emiten unggulan di pasar modal Indonesia.
"Kuartal pertama tahun 2026 80% membukukan laba bersih. Itu tentu menunjukkan bahwa fundamental dari perusahaan-perusahaan tercatat kita saat ini dalam kondisi baik," pungkas Jeffrey.
Pihak BEI terus berupaya menjaga integritas dan kepercayaan pasar. Penegasan ini diharapkan dapat menenangkan investor dan mencegah kepanikan yang tidak perlu akibat informasi palsu. BEI berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas dan daya saing pasar modal Indonesia agar tetap relevan di kancah global dan menarik minat investor baik domestik maupun internasional. Dengan fundamental yang kuat dan kinerja positif yang terus terjaga, prospek pasar modal Indonesia di masa mendatang tetap cerah dan optimis. (acd/acd)











