
Karyawan memeriksa uang pecahan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (24/4/2026). Pada perdagangan Jumat sore, nilai tukar rupiah ditutup menguat pada level Rp17.268 per dolar AS. Pemerintah menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.300 per dolar AS dipicu meningkatnya tekanan global yang turut mengguncang mata uang di kawasan. Meski demikian, pemerintah bersama Bank Indonesia akan terus memantau pergerakan pasar guna menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas yang masih tinggi.
Namun, pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah akan melanjutkan pelemahannya pada Juni 2026, bahkan berpotensi menembus level Rp19.000 per dolar AS. Prediksi ini muncul meskipun pada saat yang sama indeks dolar AS dan harga minyak mentah dunia mengalami pelemahan. Rupiah dibuka melemah 37 poin di posisi Rp18.003 per dolar AS dan terus terkoreksi hingga mencapai Rp18.051 per dolar AS pada Kamis (4/6/2026) pukul 14.43 WIB. Ibrahim menyatakan bahwa rupiah sudah berada di atas Rp18.000 dan kemungkinan akan menyentuh Rp19.000 pada bulan Juni.
Pelemahan rupiah yang signifikan ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan internal. Secara eksternal, Ibrahim menyoroti ketegangan yang terus memanas di Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz antara Iran dan Amerika Serikat, meskipun tembak-menembak yang terjadi sporadis. Selain itu, perluasan wilayah Israel di Lebanon Selatan juga menimbulkan ketegangan tersendiri yang berpotensi menarik Iran ke dalam konfrontasi melawan Israel, menciptakan kekhawatiran global.
Ketegangan di Timur Tengah ini diprediksi akan mengganggu rantai pasok minyak mentah dunia. Mengingat Selat Hormuz merupakan jalur penting yang menyumbang sekitar 20 persen dari pasokan minyak mentah dunia, baik WTI maupun brent, dampaknya akan terasa signifikan. Kenaikan harga minyak mentah dunia akan secara otomatis menaikkan biaya transportasi dan logistik, yang pada gilirannya akan mendorong kenaikan harga barang dan berdampak pada inflasi.
Kondisi inflasi yang tinggi diperkirakan akan mendorong bank sentral global untuk mempertahankan suku bunga tinggi, bahkan mungkin menaikkannya. Ibrahim memprediksi Bank Sentral AS sendiri kemungkinan akan menaikkan suku bunga satu kali pada tahun 2026 ini. Kebijakan suku bunga tinggi ini akan semakin menekan mata uang negara berkembang seperti rupiah, memperburuk pelemahannya.
Pemerintah dan Bank Indonesia, meskipun menyadari adanya tekanan global, tetap berkomitmen untuk memantau pergerakan pasar secara ketat. Upaya untuk menjaga stabilitas rupiah akan terus dilakukan di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi. Namun, prediksi dari pengamat seperti Ibrahim Assuaibi memberikan gambaran tantangan yang lebih berat di depan, di mana rupiah berpotensi mencapai rekor pelemahan baru. Situasi ini menuntut kewaspadaan tinggi dari semua pihak terkait untuk mengantisipasi dan memitigasi dampak negatifnya terhadap perekonomian nasional.











