
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengambil langkah strategis untuk memajukan industri susu nasional dengan memfokuskan pada percepatan hilirisasi, peningkatan kualitas bahan baku, inovasi produk, dan penguatan kemitraan antara industri pengolahan susu serta peternak. Upaya ini dirancang untuk menekan angka ketergantungan pada impor bahan baku susu yang saat ini masih mendominasi kebutuhan domestik. Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menegaskan bahwa susu adalah komoditas vital yang berkontribusi pada ketahanan pangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pemenuhan gizi.
Indonesia masih memiliki potensi besar dalam pengembangan industri susu, dibuktikan dengan tingkat konsumsi susu per kapita yang masih rendah dibandingkan negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Data World Population Review 2022 menunjukkan konsumsi susu masyarakat Indonesia hanya sekitar 17,76 liter per kapita per tahun, jauh di bawah Malaysia, Singapura, dan Vietnam. Padahal, kebutuhan bahan baku industri pengolahan susu nasional mencapai sekitar 5 juta ton setara susu segar per tahun, di mana 80% di antaranya masih dipenuhi dari impor.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, menekankan pentingnya penguatan pasokan susu segar dalam negeri sebagai kunci utama untuk mengurangi ketergantungan impor. Sinergi antara peternak rakyat, koperasi, dan industri pengolahan susu menjadi elemen krusial dalam menciptakan ekosistem industri persusuan yang terintegrasi dan berkelanjutan. Program kemitraan menjadi sarana efektif untuk memperkuat rantai pasok susu segar domestik.
Dalam upaya memperkuat sektor hulu, Kemenperin telah menginisiasi peningkatan kualitas susu segar dengan menyediakan teknologi cooling unit dan digitalisasi di Tempat Penerimaan Susu (TPS). Hingga tahun 2024, program digitalisasi ini telah diterapkan di 96 TPS yang tersebar di sembilan koperasi di Jawa Barat dan Jawa Timur, melibatkan lebih dari 12 ribu peternak sapi perah. Kemenperin juga mengembangkan aplikasi pemantauan pasokan susu segar guna memonitor ketersediaan bahan baku industri, yang diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan transparansi rantai pasok.
Selain penguatan pasokan, pemerintah juga mendorong investasi melalui Program Restrukturisasi Mesin dan/atau Peralatan Industri Makanan dan Minuman. Program ini menawarkan fasilitas penggantian biaya investasi hingga 35% untuk pembelian mesin dan peralatan baru bagi industri pengolahan susu, koperasi, maupun kelompok peternak mitra industri.
Putu menambahkan bahwa tren peningkatan pendapatan masyarakat, gaya hidup sehat, serta pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diprediksi akan menjadi pendorong utama pertumbuhan industri susu nasional di masa mendatang. Peningkatan permintaan ini harus diimbangi dengan penguatan kapasitas produksi dan pasokan bahan baku dalam negeri agar manfaat ekonomi dapat dinikmati secara merata oleh peternak dan pelaku industri nasional. Dengan demikian, industri susu lokal diharapkan dapat tumbuh pesat dan berkontribusi signifikan terhadap perekonomian negara.











