Defisit Dagang Vietnam Rekor Akibat Perang Timur Tengah

Budi Santoso

Defisit Dagang Vietnam Rekor Akibat Perang Timur Tengah

Defisit perdagangan Vietnam melonjak tajam mencapai rekor tertinggi pada Mei 2026, terdorong oleh lonjakan impor yang signifikan. Kantor Pusat Statistik Vietnam melaporkan defisit perdagangan pada bulan tersebut mencapai US$ 5,21 miliar, jauh melampaui angka US$ 3,28 miliar pada April 2026. Kenaikan dramatis ini mencerminkan dampak langsung dari gejolak harga bahan baku global yang dipicu oleh konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Meskipun nilai ekspor Vietnam menunjukkan peningkatan sebesar 18% secara tahunan menjadi US$ 46,93 miliar pada Mei, angka ini tidak mampu mengimbangi lonjakan impor yang lebih besar. Impor Vietnam melonjak hingga 33,8%, mencapai US$ 52,14 miliar. Kesenjangan antara impor dan ekspor inilah yang mengakibatkan penciptaan rekor defisit perdagangan.

Data ini menggarisbawahi tantangan ekonomi berat yang dihadapi Vietnam akibat perang di kawasan Timur Tengah. Pemerintah Vietnam sendiri telah mengakui bahwa kondisi ini menjadi hambatan signifikan dalam upaya mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 10% pada tahun ini. Lonjakan harga energi global, yang merupakan konsekuensi langsung dari perang Iran, mulai merembet ke berbagai sektor ekonomi, termasuk transportasi, jasa, dan biaya produksi. Dampaknya terlihat jelas pada laju inflasi Vietnam yang juga mengalami kenaikan.

Pada Mei 2026, inflasi Vietnam tercatat sebesar 5,60% secara tahunan, meningkat dari 5,46% pada bulan sebelumnya. Angka ini bahkan telah melampaui prediksi bank sentral Vietnam sebesar 5,5%. Kenaikan inflasi ini sebagian besar disebabkan oleh meningkatnya biaya energi global yang mulai mempengaruhi harga barang dan jasa secara umum.

Baca Juga :  Prabowo dan Rosan Percepat Hilirisasi 13 Titik di Berbagai Sektor

Meskipun menghadapi tantangan defisit perdagangan dan inflasi, Amerika Serikat tetap menjadi mitra dagang terbesar bagi Vietnam dalam hal ekspor. Perdagangan Vietnam dengan AS meningkat 21,1% menjadi US$ 60,4 miliar dibandingkan tahun sebelumnya. Di sisi lain, China masih menjadi pemasok impor terbesar bagi Vietnam, dengan nilai mencapai US$ 92,6 miliar. Perdagangan bilateral yang kuat dengan kedua negara adidaya ini akan terus menjadi faktor penting dalam perekonomian Vietnam di tengah ketidakpastian global.

Also Read

Tinggalkan komentar