Kemenkeu Kurangi Dolar Lewat Surat Utang Non-USD

Budi Santoso

Kemenkeu Kurangi Dolar Lewat Surat Utang Non-USD

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu), tengah mengimplementasikan strategi fiskal yang inovatif untuk mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika Serikat (AS). Langkah krusial ini difokuskan pada sisi pembiayaan, terutama melalui penerbitan surat utang dalam mata uang non-USD. Inisiatif ini muncul di tengah gejolak ekonomi global, termasuk kenaikan nilai dolar AS yang sempat menyentuh Rp 17.900 pada akhir Mei lalu, serta ketidakpastian akibat perang tarif dan isu geopolitik.

Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, menekankan bahwa perekonomian Indonesia telah menunjukkan ketahanan yang kuat dalam meredam risiko global. Ketangguhan ini didukung oleh bauran energi nasional yang optimal dan eksekusi strategi fiskal yang prudent. "Kita menghasilkan minyak, gas, biodiesel, bioenergi, batubara. Jadi energi mix kita lebih baik sehingga kita masih mempunyai daya tahan yang baik terhadap harga minyak yang meroket di global," ujar Juda Agung dalam sebuah kuliah umum di Institut Pertanian Bogor.

Strategi fiskal Kemenkeu dirancang untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, sambil tetap mempertahankan disiplin fiskal dan stabilitas makroekonomi. Ada tiga pilar utama yang konsisten diterapkan.

Pertama, pengendalian belanja negara. Pemerintah berupaya menjaga daya beli masyarakat dan mengendalikan inflasi. Salah satu caranya adalah dengan mempertahankan harga BBM bersubsidi, meskipun ini berarti peningkatan pengeluaran subsidi. Untuk efisiensi, program Makan Bergizi Gratis mengalami penyesuaian dengan pengurangan aktivitas di hari Sabtu. Secara paralel, belanja negara difokuskan pada sektor-sektor produktif yang mampu mendorong pertumbuhan, memacu produksi, dan menciptakan lapangan kerja baru. "Kita akan fokus pada pengeluaran yang mendorong demand, yang mendorong supply, mendorong produksi, dan juga mendorong menciptakan kata pekerjaan," jelas Juda Agung.

Baca Juga :  Tanggul Pantai Mutiara Dijaga Ketat Antisipasi Banjir Rob

Kedua, optimalisasi penerimaan negara. Pemerintah memanfaatkan momentum kenaikan harga komoditas global untuk memaksimalkan penerimaan. Selain itu, penerimaan pajak semakin diperkuat melalui implementasi sistem Coretax yang diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan kepatuhan perpajakan.

Ketiga, strategi pembiayaan. Untuk meminimalisir ketergantungan pada dolar AS, Kemenkeu mengarahkan penerbitan surat utang dalam mata uang non-USD dengan tingkat bunga yang kompetitif. Contohnya adalah Samurai bonds yang berdenominasi Yen (JPY), Dim Sum bonds dalam mata uang Renminbi, dan Kangoroo bonds dalam Dolar Australia.

Efektivitas strategi fiskal ini terbukti dari performa ekonomi Indonesia pada kuartal pertama tahun ini. Perekonomian mampu tumbuh kuat sebesar 5,61%. Pertumbuhan yang tinggi ini dicapai bersamaan dengan laju inflasi yang terjaga di angka 2,42%. Defisit fiskal juga terkendali, berada di level 0,64% pada April 2026, dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) serta spread masih terjaga. "Jadi empat itu sebenarnya empat indikator pertumbuhan, inflasi, fiskal defisit, dan juga yield SBN ini, menentukan bagaimana fiskal kita masih kuat. Strategi kita yang kita ambil tadi, it works. Dia bekerja dengan baik," tutupnya.

Also Read

Tinggalkan komentar