Dolar Menguat Tajam, Rupiah Terpuruk di Bawah Rp 18.000

Budi Santoso

Dolar Menguat Tajam, Rupiah Terpuruk di Bawah Rp 18.000

Dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan penguatan signifikan, menekan nilai tukar rupiah ke level terendah. Prediksi menunjukkan nilai tukar ini dapat menembus angka Rp 18.000 per dolar AS pada pekan depan, sementara posisi terakhir pada Sabtu (30/5) tercatat di Rp 17.881 per dolar AS. Penguatan dolar ini memiliki dampak berlapis pada perekonomian domestik, terutama melalui sektor perdagangan. Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah secara otomatis akan menaikkan harga produk impor dan bahan bakunya. Hal ini berpotensi memicu inflasi, karena barang-barang seperti produk elektronik dan pangan yang sebagian komponennya berasal dari impor akan ikut melonjak harganya.

Lebih lanjut, Tauhid memaparkan bahwa kenaikan nilai tukar dolar ini telah mendorong Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga acuan hingga 50 basis poin menjadi 5,25%. Kenaikan suku bunga BI ini berdampak langsung pada suku bunga pinjaman, termasuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR), kredit konsumtif, dan kredit investasi, yang semuanya akan menjadi lebih mahal.

Menghadapi situasi ini, kelas menengah perlu mengambil langkah antisipatif. Pertama, belanja terutama produk impor harus dikurangi. Dengan harga barang impor yang semakin tinggi akibat pelemahan rupiah, menghemat anggaran menjadi prioritas. Tauhid menyarankan untuk lebih ketat dalam membelanjakan barang-barang konsumtif, khususnya yang berasal dari luar negeri.

Kedua, kredit dengan bunga cicilan floating sebaiknya dihindari. Peningkatan suku bunga BI berpotensi menaikkan besaran bunga cicilan. Disarankan untuk mencari opsi pinjaman atau kredit dengan bunga tetap (fix) yang lebih terjangkau dan terprediksi. Jika sudah memiliki cicilan dengan bunga floating, perlu dipertimbangkan opsi untuk beralih ke bunga tetap jika memungkinkan.

Baca Juga :  Trump Pangkas Tarif Impor Aluminium & Baja, Beri Kelonggaran bagi Sekutu

Ketiga, mengandalkan satu sumber pendapatan merupakan strategi yang berisiko. Di tengah tekanan ekonomi, mencari sumber pendapatan tambahan menjadi krusial. Kelas menengah perlu aktif mencari peluang usaha atau pekerjaan sampingan, baik di sektor jasa maupun lainnya, untuk menambah pemasukan. Hal ini bisa berupa menjadi mitra ojek online, berjualan, atau bentuk usaha lainnya yang dapat meningkatkan ketahanan finansial.

Founder dan Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, turut menekankan pentingnya kelas menengah untuk menahan diri dalam berbelanja, terutama untuk barang-barang impor. Ia menyarankan untuk fokus pada kebutuhan harian yang paling esensial dan tidak mudah tergoda oleh promosi, khususnya yang berkaitan dengan produk impor. Persiapan "sebelum hujan" sangat penting agar dapat menghadapi dampak penguatan dolar AS secara lebih baik.

Also Read

Tinggalkan komentar