Dolar Menguat, Kaltim Hadapi Berkah dan Ancaman Ekonomi

Budi Santoso

Dolar Menguat, Kaltim Hadapi Berkah dan Ancaman Ekonomi

Pengamat ekonomi Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Jusuf Kuleh, menilai penguatan kurs dolar AS yang menembus Rp 17.814 per dolar AS pada Jumat (29/5/2026) pagi dapat menjadi berkah sekaligus ancaman bagi Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Bagi daerah yang bergantung pada ekspor komoditas seperti Kaltim, penguatan dolar AS berpotensi melipatgandakan keuntungan perusahaan tambang dan perkebunan. Pendapatan asli daerah (PAD) melalui dana bagi hasil juga diperkirakan meningkat. Kaltim sendiri merupakan provinsi yang mengekspor komoditas utama seperti batu bara, minyak bumi, gas alam cair (LNG), dan kelapa sawit, di mana pembayaran umumnya dilakukan dalam mata uang dolar AS.

Namun, di sisi lain, fenomena ini juga membawa dampak negatif yang signifikan. Kenaikan kurs dolar AS terhadap rupiah diprediksi akan memicu inflasi barang impor. Hal ini secara otomatis akan menaikkan biaya logistik dan transportasi, yang pada akhirnya akan berdampak pada kenaikan harga pangan di pasar tradisional di berbagai kota di Kaltim, termasuk Samarinda, Balikpapan, dan Penajam Paser Utara. Mengingat Kaltim bukan merupakan produsen pangan utama, sebagian besar kebutuhan pokok dan barang konsumsi masih harus didatangkan dari luar daerah, terutama dari Pulau Jawa dan Sulawesi. Oleh karena itu, kenaikan biaya impor dan transportasi akan langsung membebani masyarakat.

Proyek strategis Ibu Kota Nusantara (IKN) yang sedang gencar dibangun di Kaltim juga tidak luput dari ancaman dampak penguatan dolar AS. Peningkatan biaya bahan baku dan material impor yang digunakan dalam pembangunan IKN dapat menyebabkan pembengkakan anggaran dan berpotensi memperlambat progres proyek.

Baca Juga :  BULOG Serap 3 Juta Ton Beras, Petani dan Cadangan Pangan Menguat

Menyikapi kondisi ini, Jusuf Kuleh berharap Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi di pasar uang, termasuk di pasar spot, untuk menahan laju pelemahan rupiah. Intervensi ini penting guna mencegah rupiah menembus batas psikologis baru yang dapat memicu ketidakstabilan ekonomi yang lebih luas. Di tingkat daerah, Pemerintah Provinsi Kaltim juga didorong untuk bergerak cepat memanfaatkan momentum lonjakan pendapatan ekspor. Pendapatan tambahan ini hendaknya dialokasikan untuk memperkuat jaring pengaman sosial bagi masyarakat yang rentan, terutama mereka yang paling terdampak oleh kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok.

Jusuf Kuleh menekankan bahwa kondisi rupiah yang kritis ini merupakan ujian nyata bagi ketahanan ekonomi Indonesia. "Rupiah yang kritis adalah ujian nyata bagi ketahanan ekonomi kita," tegasnya. Ia mengingatkan bahwa jika langkah mitigasi risiko tidak diambil dengan tepat, rekor pelemahan rupiah yang terjadi bukanlah sekadar catatan temporal, melainkan bisa menjadi pintu gerbang menuju krisis ekonomi yang lebih dalam. Oleh karena itu, antisipasi dan tindakan proaktif dari berbagai pihak sangat diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional dan daerah.

Also Read

Tinggalkan komentar