Rupiah Terancam Jebol Rp 18.000, Dolar Menguat Tajam

Budi Santoso

Rupiah Terancam Jebol Rp 18.000, Dolar Menguat Tajam

Nilai tukar rupiah diprediksi masih berada dalam tekanan hingga awal pekan depan, bahkan besar kemungkinan mata uang Paman Sam dapat tembus hingga ke level Rp 18.000. Analis komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan pelemahan rupiah bisa mencapai Rp 18.200 jika level Rp 18.000 tertembus. Dampak pelemahan nilai tukar ini diperkirakan akan menimbulkan efek domino yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia.

Salah satu dampak utama adalah efek psikologis terhadap investor domestik dan asing, serta pelaku pasar yang berpotensi beralih dari rupiah untuk mengamankan aset mereka. Ibrahim menjelaskan bahwa meskipun dolar mengalami pelemahan global, hal tersebut tidak berdampak positif terhadap penguatan rupiah. Sebaliknya, masyarakat cenderung mengalihkan tabungan dari konvensional ke valuta asing, terutama dolar AS, ketika melihat peluang penguatan dolar.

Pelemahan rupiah juga akan sangat mempengaruhi harga komoditas, khususnya produk impor jadi dan produk dengan bahan baku utama dari luar negeri. Sebagai contoh, mayoritas kedelai di Indonesia berasal dari impor. Dengan melemahnya rupiah, harga kedelai dalam negeri akan meningkat, yang pada gilirannya akan menaikkan harga produk olahan kedelai. Kenaikan harga ini akan sangat memberatkan masyarakat.

Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, sependapat bahwa rupiah akan terus melemah dan dolar berpotensi menguat tajam hingga menembus Rp 18.000. Jika ini terjadi, risiko terhadap perekonomian Indonesia sangat besar, terutama dalam hal kenaikan harga barang impor. Selain harga barang impor yang menjadi lebih mahal, biaya logistik atau transportasi pengiriman barang juga akan meningkat. Hal ini akan menambah beban produksi dalam negeri, yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga barang di tingkat konsumen.

Baca Juga :  SPBU Swasta Naikkan Harga BBM, Pertamina Bertahan

Bhima menekankan bahwa efek pelemahan nilai tukar terhadap harga barang di tingkat konsumen akan semakin cepat dirasakan. Jika sebelumnya ada jeda atau "lag" selama 2-3 bulan, kini pelaku usaha terpaksa harus mengganti daftar harga barang lebih cepat akibat pelemahan rupiah yang drastis. Kondisi ini menciptakan ketidakpastian tinggi, yang berujung pada inflasi impor dan semakin menekan daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah.

Lebih lanjut, jika kondisi ini berlanjut, perusahaan, khususnya yang bergerak di sektor padat karya dengan bahan baku impor, berpotensi melakukan efisiensi yang dapat berujung pada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal. Hal ini akan semakin memperlemah daya beli masyarakat. Pelaku pasar juga akan cenderung beralih ke dolar AS, mempercepat pelemahan rupiah. Ibrahim menyebutkan bahwa masyarakat kelas menengah ke atas akan melakukan aksi beli dolar AS untuk berjaga-jaga, menciptakan spiral ke bawah yang semakin menekan nilai tukar rupiah.

Pada akhirnya, kelompok pekerja atau kelas menengah akan menjadi pihak yang paling dirugikan. Mereka menghadapi kenaikan harga komoditas yang signifikan, ancaman PHK, dan kenaikan nilai tukar dolar yang didorong oleh aksi beli kelompok kaya. Bhima menyatakan bahwa kelompok menengah ke bawah, yang hampir tidak memiliki tabungan dan hidup dari pinjaman, akan semakin terpuruk. Kondisi ini berpotensi meningkatkan angka kemiskinan dan pengangguran, serta membuat pekerja di sektor informal yang sudah rapuh semakin rentan. Inilah efek nyata dari dolar yang menembus Rp 18.000.

Baca Juga :  Pertamina Ingatkan Pengguna Kendaraan Pakai BBM Sesuai Spesifikasi

Also Read

Tinggalkan komentar