Rupiah Tertekan, Target Rp15.000 Mustahil Tercapai

Budi Santoso

Rupiah Tertekan, Target Rp15.000 Mustahil Tercapai

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat terhadap rupiah, tercatat pada pagi hari ini menguat sebesar 0,04% menjadi Rp17.853. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, optimistis akan mendorong rupiah kembali ke level Rp15.000, meskipun saat ini mata uang Garuda masih berada di kisaran Rp17.698 per dolar AS. Pernyataan ini disampaikan dalam acara Jogja Financial Festival 2026, dengan keyakinan bahwa senyumnya mencerminkan stabilitas ekonomi.

Namun, pandangan optimis ini bertolak belakang dengan analisis Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira. Ia berpendapat bahwa kecil kemungkinan rupiah yang telah mengalami pelemahan signifikan akan kembali menguat ke level jauh di belakang. Bhima memprediksi rupiah masih akan terus tertekan, bahkan berpotensi menembus Rp18.000 per dolar AS. Ia menjelaskan bahwa sentimen negatif investor, terutama asing, dipicu oleh kebijakan pemerintah seperti rencana ekspor satu pintu melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dan penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam (SDA) 100% di perbankan BUMN. Kebijakan ini dinilai Bhima tidak serta-merta menyelesaikan masalah devisa negara, bahkan berpotensi memicu peralihan dana ke instrumen dolar AS. Permintaan dolar yang meningkat dari pelaku usaha maupun rumah tangga menjadi tantangan tersendiri.

Senada dengan Bhima, analis komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyebut target Rp15.000 untuk rupiah sebagai "angan-angan" yang mudah diucapkan namun sulit dicapai. Ia memprediksi rupiah akan terus tertekan hingga berpotensi menembus Rp18.000 per dolar AS pekan depan. Faktor-faktor yang mempengaruhi pelemahan ini meliputi dinamika geopolitik, ekonomi domestik yang masih memiliki persoalan struktural, serta defisit neraca transaksi berjalan yang bergantung pada impor energi, terutama minyak mentah. Kenaikan harga minyak mentah dunia yang melampaui proyeksi APBN, ditambah dengan mayoritas impor minyak yang tersubsidi, memberikan beban signifikan bagi pemerintah.

Baca Juga :  Harga Emas Antam Melonjak Tajam Hari Ini, Capai Rp 2,7 Juta/Gram

Selain itu, dari sisi pasar modal, pembagian dividen oleh perusahaan asing di Indonesia juga meningkatkan permintaan dolar. Ibrahim juga menyoroti pergeseran aset investor dari emas ke dolar AS. Fluktuasi harga emas dunia di tengah ketidakpastian global mendorong investor mencari keuntungan jangka pendek dari momentum pelemahan rupiah. Kebijakan terbaru terkait ekspor satu pintu melalui DSI juga menimbulkan keraguan bagi investor asing mengenai kepastian regulasi di Indonesia, yang berujung pada beralihnya mereka ke negara lain. Dengan berbagai tekanan fiskal dan struktural yang ada, penguatan rupiah ke level Rp15.000 dalam waktu dekat dinilai hampir mustahil.

Also Read

Tinggalkan komentar