
Chief Investment Officer (CIO) Pandu Sjahrir menjelaskan pembentukan Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) sebagai langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam (SDA) Indonesia. Perusahaan ini baru saja resmi menjadi perseroan BUMN pada hari Senin lalu dan kini tengah dalam tahap penataan organisasi serta sosialisasi kepada para pelaku pasar. Pandu optimis DSI akan efektif dalam memberantas praktik under invoicing dan transfer pricing yang selama ini merugikan sektor komoditas strategis Indonesia.
Menurut Pandu, under invoicing merupakan akar masalah utama yang menyebabkan hilangnya potensi nilai ekonomi ke luar negeri. Praktik ini tidak hanya terjadi pada komoditas batu bara, tetapi juga merambah ke komoditas strategis lainnya. Pengalamannya selama hampir sepuluh tahun memimpin asosiasi batu bara membuatnya sangat memahami skala permasalahan ini. "Waktu pertama kali saya jadi ketua asosiasi itu bisa dibilang 40 persen batu baranya tidak melalui proses yang baik," ungkapnya.
Oleh karena itu, pemerintah membentuk DSI sebagai solusi untuk memperbaiki mekanisme perdagangan komoditas strategis nasional. DSI akan beroperasi di bawah ekosistem Danantara, dengan orientasi profit yang serupa dengan sovereign wealth fund. Dana yang dihasilkan akan kembali ke Danantara sebagai tabungan untuk generasi mendatang. Saat ini, DSI dimiliki 99 persen oleh BPI Danantara dan 1 persen oleh BP BUMN terkait.
Dalam enam bulan pertama operasionalnya, DSI akan memfokuskan diri pada pembangunan tim dan sistem di tiga sektor utama: batu bara, minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil – CPO), dan paduan besi (ferro alloy). Periode transisi dari Juni hingga Desember 2026 akan dimanfaatkan untuk terus menjalin komunikasi intensif dengan pelaku pasar dan asosiasi industri. Tujuannya adalah untuk meminimalkan ketidakpastian yang mungkin timbul pasca pembentukan lembaga baru ini. DSI akan beroperasi penuh pada awal tahun 2027.
Untuk memperkuat kapabilitasnya, DSI juga akan merekrut tenaga ahli perdagangan komoditas (trader) baik dari dalam maupun luar negeri. Pandu menekankan bahwa rekrutmen ini bersifat global, tidak terbatas pada talenta domestik saja, demi memperkuat bisnis perdagangan komoditas strategis nasional secara keseluruhan. Kehadiran para trader global diharapkan dapat memberikan perspektif dan keahlian yang lebih luas dalam mengelola komoditas strategis Indonesia. Dengan demikian, DSI diharapkan dapat mewujudkan tujuan utamanya dalam mengoptimalkan potensi SDA Indonesia dan berkontribusi pada stabilitas ekonomi nasional.











