
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan memperkirakan konflik di Timur Tengah dapat memicu lonjakan harga minyak dunia, yang berujung pada pembengkakan anggaran subsidi bahan bakar pemerintah hingga Rp 150-200 triliun. Perkiraan ini didasarkan pada asumsi harga minyak mentah dalam APBN sebesar US$ 70 per barel, sementara harga impor minyak mentah untuk kebutuhan dalam negeri diasumsikan mencapai US$ 90 per barel. Luhut menjelaskan bahwa selisih harga sebesar US$ 20 per barel ini dapat menyebabkan defisit anggaran yang signifikan, mencapai ratusan triliun rupiah, murni akibat fluktuasi harga minyak.
Dampak kenaikan harga minyak terhadap perekonomian dalam negeri diprediksi akan mulai terasa pada bulan Juli mendatang. Luhut menekankan pentingnya kewaspadaan dalam memantau situasi ini, meskipun ia belum merinci secara spesifik bentuk dampak yang akan terjadi. Ia menambahkan bahwa DEN terus menjalin komunikasi intensif dengan berbagai pihak, terutama negara-negara mitra di Timur Tengah yang merupakan produsen minyak mentah dunia. Meskipun Indonesia tidak mengimpor minyak mentah secara langsung dalam jumlah besar dari kawasan tersebut, sekitar 20% perdagangan energi global masih berasal dari Timur Tengah. Ketidakpastian situasi di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital perdagangan energi, dapat berimplikasi luas terhadap perekonomian Indonesia.
Dalam percakapannya, Luhut juga mengungkapkan adanya keluhan dari mitra di Timur Tengah terkait sikap Indonesia yang dinilai belum memberikan dukungan resmi terhadap konflik di kawasan tersebut. Para mitra tersebut berharap Indonesia dapat memberikan dukungan terbuka, bahkan hingga mengancam akan mempengaruhi pasokan energi jika Indonesia tidak memberikan dukungan. Ketidakpastian geopolitik ini menjadi tantangan tersendiri bagi stabilitas ekonomi Indonesia, yang sangat bergantung pada pasokan energi global. Oleh karena itu, pemerintah perlu mengambil langkah strategis untuk memitigasi risiko pembengkakan anggaran subsidi BBM dan menjaga ketahanan energi nasional di tengah gejolak pasar global. Kewaspadaan dan komunikasi yang proaktif menjadi kunci dalam menghadapi potensi krisis yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah.











